Terobosan Besar! Merck dan Moderna Klaim Berhasil Taklukkan Kanker dengan Teknologi mRNA
Kredit Foto: Ist
Merck dan Moderna mengumumkan hasil positif uji klinis Fase 3 terapi kanker berbasis messenger RNA (mRNA) yang dikembangkan secara personal (individualized neoantigen therapy/INT) untuk pasien melanoma. Hasil ini menjadi tonggak penting karena merupakan keberhasilan pertama terapi kanker berbasis mRNA dalam uji Fase 3 sekaligus membuka peluang standar baru pengobatan kanker kulit agresif tersebut.
Dalam keterangan resmi yang dirilis Selasa (19/8), kedua perusahaan menyatakan uji klinis global INTerpath-001berhasil memenuhi target utama (primary endpoint), yakni meningkatkan recurrence-free survival (RFS) atau ketahanan pasien tanpa kekambuhan kanker. Uji tersebut juga mencapai target sekunder penting berupa peningkatan distant metastasis-free survival (DMFS), yakni memperpanjang waktu pasien bebas dari penyebaran kanker ke organ lain.
Terapi eksperimental intismeran autogene (V940 atau mRNA-4157) diberikan bersama imunoterapi KEYTRUDA (pembrolizumab) kepada pasien melanoma stadium IIB hingga IV yang telah menjalani operasi pengangkatan tumor secara menyeluruh.
Keberhasilan ini juga menjadi studi Fase 3 pertama yang menunjukkan kombinasi terapi tersebut memberikan manfaat klinis lebih baik dibandingkan penggunaan KEYTRUDA sebagai terapi standar pascaoperasi.
Presiden Merck Research Laboratories, Dr. Dean Y. Li, mengatakan terapi tambahan (adjuvant therapy) setelah operasi bertujuan meningkatkan peluang kesembuhan pasien ketika kanker masih berada pada fase yang paling memungkinkan untuk diobati.
"Temuan Fase 3 pertama ini memperkuat potensi pendekatan pengobatan kanker yang lebih personal. Kami percaya terapi neoantigen individual berpotensi mengubah cara pasien melanoma stadium IIB hingga IV ditangani setelah operasi," ujar Li.
CEO Moderna Stéphane Bancel menyebut hasil tersebut sebagai titik balik dalam pengembangan terapi kanker berbasis mRNA.
"Selama bertahun-tahun, gagasan menciptakan terapi mRNA yang dirancang khusus untuk kanker setiap pasien hanyalah sebuah harapan. Kini kami mulai mewujudkan visi tersebut menjadi kenyataan," katanya.
Sementara itu, peneliti utama studi sekaligus Direktur Medis Melanoma Institute Australia, Prof. Georgina Long, mengatakan kombinasi intismeran dan pembrolizumab berpotensi menjadi paradigma baru dalam terapi melanoma pascaoperasi.
"Terapi ini dirancang berdasarkan sidik mutasi unik dari tumor setiap pasien. Kombinasi tersebut mampu menurunkan risiko kekambuhan atau kematian dibandingkan penggunaan KEYTRUDA saja, sehingga pasien berpeluang tetap bebas kanker lebih lama," ujarnya.
Merck dan Moderna belum mengungkap besaran efektivitas pada uji Fase 3 karena data lengkap akan dipresentasikan dalam forum medis internasional dan diserahkan kepada regulator untuk proses evaluasi.
Namun, hasil tersebut memperkuat temuan uji Fase 2b KEYNOTE-942/mRNA-4157-P201 yang dipaparkan pada ASCO Annual Meeting 2026. Dalam studi itu, kombinasi intismeran dan KEYTRUDA mampu menurunkan risiko kekambuhan atau kematian sebesar 49% dibandingkan KEYTRUDA saja. Selain itu, risiko metastasis jauh atau kematian juga berkurang 59%.
Program pengembangan INTerpath saat ini mencakup sembilan uji klinis Fase 2 dan Fase 3 pada berbagai jenis kanker, termasuk melanoma, kanker paru non-small cell lung cancer (NSCLC), kanker kandung kemih, dan kanker ginjal. Penelitian juga tengah diperluas ke kanker pankreas, kanker lambung, serta kanker paru pada fase perioperatif.
Baca Juga: Kasus Kanker Indonesia Tembus 1,13 Juta, Menkes Budi Gunadi Sadikin Tekankan Pentingnya Deteksi Dini
Baca Juga: Prabowo Minta Masyarakat Tinggalkan Seng, Singgung Risiko Kanker Paru
Uji Fase 3 INTerpath-001 melibatkan 1.137 pasien melanoma risiko tinggi stadium IIB hingga IV di berbagai negara. Seluruh peserta telah menjalani operasi pengangkatan tumor dan kemudian diacak untuk menerima kombinasi intismeranserta KEYTRUDA, atau KEYTRUDA saja selama sekitar satu tahun.
Dari sisi keamanan, Merck dan Moderna menyatakan profil efek samping kombinasi terapi tersebut tetap konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya dan tidak ditemukan sinyal keamanan baru.
Keberhasilan ini berpotensi memperkuat posisi teknologi mRNA di luar vaksin penyakit infeksi menuju terapi kanker yang dipersonalisasi. Jika memperoleh persetujuan regulator, pendekatan tersebut dapat membuka pasar baru bagi industri biofarmasi sekaligus mendorong pengembangan terapi presisi (precision medicine) yang dirancang berdasarkan karakteristik genetik tumor masing-masing pasien
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: