Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Anda Bingung Masuk Desil Lebih Tinggi dari Anak Purbaya? Ini Alasannya

Anda Bingung Masuk Desil Lebih Tinggi dari Anak Purbaya? Ini Alasannya Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pembagian kelompok desil oleh pemerintah menjadi perbincangan hangat dalam beberapa waktu terakhir. Dalam sebuah video yang viral di media sosial, diketahui putra Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masuk dalam desil 7. Di sisi lain, muncul pula keluhan dari masyarakat yang merasa hidup pas-pasan tetapi justru tercatat dalam desil yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) digunakan untuk memetakan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Untuk memahami persoalan tersebut, perlu diketahui bahwa desil bukanlah label yang secara langsung menentukan seseorang kaya atau miskin. Desil merupakan hasil pengelompokan relatif berdasarkan sejumlah karakteristik kesejahteraan rumah tangga.

DTSEN pada tahap awal dibangun melalui integrasi tiga sumber data besar, yakni Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), P3KE, dan Regsosek. Data tersebut kemudian dipadankan dan dimutakhirkan untuk memberikan gambaran sosial-ekonomi masyarakat secara lebih terpadu.

Dalam proses pemeringkatan, kesejahteraan tidak hanya dilihat dari penghasilan. Kondisi rumah, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, sanitasi, kepemilikan aset, hingga aktivitas ekonomi turut menjadi bagian dari gambaran sosial-ekonomi rumah tangga.

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah posisi desil menggambarkan kondisi rumah tangga secara keseluruhan. Dalam satu keluarga, bisa terdapat anggota keluarga yang bekerja, anak yang masih bersekolah, lansia, maupun anggota keluarga lain dengan kondisi ekonomi yang berbeda.

Karena itu, posisi desil tidak serta-merta dapat diterjemahkan bahwa setiap individu dalam rumah tangga tersebut hidup berkecukupan.

Kepemilikan aset juga tidak selalu identik dengan kemampuan ekonomi. Seseorang bisa memiliki rumah sendiri, tetapi rumah tersebut merupakan warisan dan membutuhkan banyak perbaikan.

Begitu pula dengan sepeda motor. Kendaraan yang tercatat sebagai aset bisa saja merupakan alat utama untuk mencari nafkah. Laptop juga dapat menjadi perangkat yang digunakan untuk bekerja.

Kondisi rumah yang tercatat sebagai milik sendiri pun belum tentu menunjukkan tingkat kesejahteraan yang sama. Kualitas bangunan dan kondisi fisik rumah dapat berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya.

Faktor-faktor tersebut menunjukkan mengapa seseorang yang secara subjektif merasa hidup pas-pasan tetap dapat berada pada desil yang relatif lebih tinggi dibandingkan keluarga lain yang kondisi sosial-ekonominya lebih berat.

Persoalan desil kemudian tidak hanya berkaitan dengan bagaimana sistem atau algoritma melakukan pemeringkatan, tetapi juga apakah data yang digunakan masih menggambarkan kondisi keluarga yang sebenarnya.

DTSEN bukan data yang bersifat tetap. Pemutakhiran dilakukan secara berkala, sementara masyarakat dapat berperan memperbarui data melalui mekanisme yang disediakan pemerintah, termasuk melalui petugas atau pendamping sosial dan mekanisme pemutakhiran mandiri.

Hal ini penting karena kondisi sosial-ekonomi keluarga dapat berubah. Pekerjaan, kondisi rumah, kepemilikan aset, pendidikan, maupun kondisi sosial-ekonomi lainnya dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Algoritma dengan metodologi yang baik tetap dapat menghasilkan pemeringkatan yang kurang sesuai apabila data yang menjadi bahan bakunya tidak akurat atau tidak diperbarui.

Dalam konteks ini, prinsip garbage in, garbage out menjadi relevan. Kualitas hasil pengolahan statistik sangat dipengaruhi oleh kualitas informasi yang dimasukkan ke dalam sistem.

Karena itu, masyarakat memiliki hak untuk bersikap kritis terhadap proses pendataan, termasuk mempertanyakan bagaimana data dikumpulkan dan digunakan. Namun, masyarakat juga perlu memberikan informasi yang benar dan memperbarui data apabila kondisi keluarganya berubah.

Informasi yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya justru dapat membuat gambaran kesejahteraan sebuah keluarga menjadi tidak akurat.

Dengan demikian, desil tidak semestinya dipahami sebagai vonis bahwa seseorang kaya atau miskin. Desil merupakan potret statistik relatif berdasarkan sejumlah karakteristik kesejahteraan rumah tangga pada suatu waktu.

Ketika seseorang yang merasa hidup pas-pasan masuk desil tinggi, hal itu dapat terjadi karena posisi rumah tangganya dalam pemeringkatan dihitung berdasarkan berbagai karakteristik secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan penghasilan atau persepsi individu mengenai kondisi ekonominya.

Baca Juga: Desil Ekonomi Berubah? Airlangga Ungkap Data Baru yang Dipakai Pemerintah

Jika kondisi keluarga tidak sesuai dengan data yang tercatat, masyarakat dapat memanfaatkan mekanisme pemutakhiran dan koreksi yang tersedia.

Di sisi lain, pemerintah, petugas pendataan, pemerintah daerah, dinas sosial, serta pihak yang terlibat dalam pengolahan data memiliki peran untuk memastikan DTSEN terus diperbarui dan mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara lebih akurat.

Pemahaman mengenai cara kerja desil menjadi penting agar posisi seseorang dalam pemeringkatan tidak langsung dianggap sebagai bukti bahwa orang tersebut hidup berkecukupan atau tidak layak menerima bantuan.

Pada akhirnya, DTSEN digunakan untuk membantu pemerintah memetakan kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Akurasi pemetaan tersebut tidak hanya bergantung pada metode statistik dan sistem pengolahan data, tetapi juga pada kualitas informasi yang dikumpulkan serta partisipasi masyarakat dalam memastikan data keluarganya sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat