- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Berpeluang Menguat ke Level 6.554-6.616, Sektor Energi Jadi Penopang
Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat pergerakan indeks masih memiliki bias positif, meski investor perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung setelah IHSG menguat signifikan pada perdagangan sebelumnya.
Dalam riset Strategy Notes & JCI Technical View yang disusun Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta, IHSG dinilai kembali membentuk level tertinggi baru (fresh high).
Secara teknikal, sejumlah indikator juga menunjukkan sinyal positif. Moving Average (MA) 20 dan MA60 telah membentuk positive crossover, sementara indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) turut memberikan sinyal penguatan. Volume perdagangan juga terus meningkat.
"Sentimen IHSG cenderung mixed dengan positive bias meskipun terjadi net foreign buy sebesar Rp733,69 miliar," tulis Nafan dalam risetnya, Jumat (21/8/2026).
Nafan memperkirakan IHSG memiliki level support di 6.406 dan 6.363. Sedangkan level resistance berada di 6.554 dan 6.616.
Dari sisi strategi, investor disarankan melakukan akumulasi secara selektif pada saham dengan fundamental solid dan valuasi yang masih murah. Saham yang mulai menunjukkan indikasi pembalikan tren juga dapat menjadi perhatian, dengan tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin.
Sektor Energi Berpotensi Jadi Penopang
Nafan melihat sektor energi dan komoditas masih berpeluang menopang IHSG apabila harga komoditas tetap berada pada level tinggi. Namun, saham-saham yang telah mengalami kenaikan secara cepat perlu dicermati karena berpotensi terkena aksi profit taking.
Dari pasar global, investor masih mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi tersebut mendorong harga minyak Brent menembus US$93 per barel dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Sentimen tersebut diperkuat oleh notula rapat The Fed yang menunjukkan masih tingginya ketidakpastian terkait inflasi. Hal ini memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.
Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun kembali mendekati 4,71%, sedangkan tenor 30 tahun berada di sekitar 5,25%. Menurut Mirae Asset, kondisi tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap defisit fiskal dan tekanan inflasi AS yang masih tinggi.
Baca Juga: Batas Minimum Harga Saham Jadi Rp1, Ini Alasan BEI
Baca Juga: IHSG Melonjak 1,68% ke 6.501,58, Mayoritas Saham Menguat
Baca Juga: BEI Suspensi 5 Saham, WIKA hingga AGAR Kena Setop
Intervensi pemerintah AS di pasar obligasi dinilai belum cukup kuat untuk mengubah kekhawatiran investor secara fundamental.
Neraca Transaksi Berjalan Jadi Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, investor juga akan mencermati data transaksi berjalan Indonesia kuartal II 2026 yang dijadwalkan dirilis pada Jumat (21/8/2026).
Berdasarkan konsensus Trading Economics, defisit transaksi berjalan diperkirakan menyempit menjadi sekitar US$1,8 miliar, dari defisit US$4 miliar pada kuartal I 2026.
Jika realisasi defisit sesuai atau bahkan lebih rendah dari perkiraan, kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi IHSG dan rupiah. Pasalnya, penyempitan defisit akan menunjukkan bahwa tekanan pada sektor eksternal Indonesia masih relatif terkendali.
Dengan kombinasi indikator teknikal yang positif dan sejumlah katalis domestik, IHSG masih memiliki peluang melanjutkan tren penguatan. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko profit taking, terutama pada saham-saham yang telah mengalami kenaikan tajam.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: