Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Danantara Gandeng Gojek dan Grab untuk Dorong Ekosistem Motor Listrik

Danantara Gandeng Gojek dan Grab untuk Dorong Ekosistem Motor Listrik Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengembangan Motor Listrik Nasional (Molinas) tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan produk kendaraan listrik, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung penggunaannya. Untuk itu, BPI Danantara Indonesia melibatkan perusahaan aplikator ojek online seperti Gojek dan Grab.

Managing Director Industrialization Danantara Indonesia Ardy Muawin mengatakan pihaknya berdiskusi dengan sejumlah perusahaan yang memiliki kebutuhan besar terhadap kendaraan roda dua, termasuk Gojek, Grab, Pos Indonesia, dan J&T.

Langkah tersebut dilakukan untuk memetakan kebutuhan sekaligus melihat potensi penggunaan motor listrik dalam aktivitas transportasi dan logistik.

Berangkat dari pembahasan dengan para pelaku industri tersebut, Danantara menemukan adanya peluang penghematan biaya operasional yang cukup besar bagi pengemudi ojek online.

Ardy menyebut penggunaan motor listrik berpotensi memangkas biaya operasional sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per hari dibandingkan motor berbahan bakar bensin.

Jika pengemudi bekerja selama 25 hari dalam sebulan dan mampu menghemat Rp20 ribu per hari, penghematan yang terkumpul bisa mencapai Rp500 ribu per bulan.

“That’s a lot of money buat teman-teman itu,” ujar Ardy dalam diskusi Navigating The Challenges of The Motor Vehicle Industry di Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026).

Kendala Motor Listrik Mulai Berkurang

Meski memiliki potensi menghemat biaya operasional, penggunaan motor listrik di kalangan pengemudi ojek online masih menghadapi sejumlah tantangan.

Ardy mengatakan pihaknya sempat menggali alasan rendahnya tingkat adopsi motor listrik di kalangan pengemudi Gojek. Salah satu jawabannya berkaitan dengan persoalan teknis yang pernah melekat pada motor listrik generasi sebelumnya.

Beberapa pengemudi sebelumnya mengeluhkan performa motor yang kurang kuat ketika melewati tanjakan serta kemampuan baterai yang belum memadai untuk menunjang aktivitas harian.

Namun, menurut Ardy, persoalan tersebut kini mulai dibenahi oleh produsen. Seiring perkembangan teknologi, performa kendaraan dan kemampuan baterai dinilai semakin sesuai dengan kebutuhan penggunaan sehari-hari.

Persoalan berikutnya justru berada pada sisi pembiayaan.

Berdasarkan masukan dari Grab, sebagian pengemudi ojek online masih kesulitan memperoleh pembiayaan kendaraan karena terbentur persyaratan riwayat kredit atau Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.

Padahal, Ardy menilai pengemudi yang memiliki rekam jejak baik, rutin bekerja, dan memperoleh rating tinggi sebenarnya memiliki potensi menjadi debitur dengan risiko yang relatif rendah.

Karena itu, Danantara melihat perlunya model pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik pengemudi ojek online.

Salah satu opsi yang dikaji adalah sistem pengamanan kendaraan yang memungkinkan motor dinonaktifkan secara otomatis apabila cicilan tidak dibayarkan. Selain itu, pembayaran cicilan dapat disesuaikan dengan pola pendapatan pengemudi, termasuk melalui skema pembayaran harian.

Dengan mekanisme tersebut, risiko kredit diharapkan dapat ditekan sehingga biaya pembiayaan menjadi lebih murah.

“Credit risk-nya bisa kita turunkan, sehingga harapannya cost of money bisa rendah, sehingga kita akan men-stimulate demand dari sisi teman-teman konsumen,” jelas Ardy.

Bunga Kredit Motor Dinilai Terlalu Tinggi

Danantara juga menemukan persoalan lain dalam pembiayaan kendaraan roda dua, yakni tingginya tingkat bunga kredit.

Ardy menyebut bunga kredit sepeda motor dapat berada di kisaran 30%-40%. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan bunga kredit mobil yang disebutnya berada di sekitar 12%.

Beban pembiayaan yang tinggi pada akhirnya dapat membuat harga motor menjadi kurang terjangkau, termasuk bagi pengemudi ojek online yang menjadi salah satu kelompok potensial pengguna motor listrik.

Menurut Ardy, persoalan tersebut juga tidak terlepas dari pola penjualan kendaraan. Dealer dinilai memiliki insentif untuk mendorong transaksi secara kredit karena berkaitan dengan bonus atau keuntungan penjualan.

Baca Juga: Danantara Siapkan Strategi Kurangi Utang WIKA Lewat Optimalisasi Aset

Baca Juga: Purbaya Pastikan Skema Dividen Danantara untuk Cadangan APBN Diputuskan Tahun Ini

Baca Juga: Kinerja BUMN Meningkat, Prabowo Puji Danantara dan Ingin Beri Bintang Kehormatan

Karena itu, Danantara menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk membahas kembali struktur pembiayaan kendaraan listrik.

Langkah tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya pembiayaan sekaligus membuka akses kepemilikan motor listrik bagi lebih banyak masyarakat.

Dengan melibatkan aplikator, perusahaan logistik, produsen, dan sektor perbankan, Danantara ingin pengembangan Molinas tidak berhenti pada produksi dan penjualan kendaraan. Ekosistem penggunaan, pembiayaan, hingga kebutuhan operasional pengguna juga menjadi bagian penting agar permintaan motor listrik dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan