Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

3.158.166 Warga Terdampak Karhutla, Polisi Buka Suara soal Nama di Balik Kebakaran di Kalimantan

3.158.166 Warga Terdampak Karhutla, Polisi Buka Suara soal Nama di Balik Kebakaran di Kalimantan Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ada sesuatu di balik lebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera. Dampaknya telah dirasakan jutaan warga, sementara aparat kepolisian mulai mengusut pihak-pihak yang diduga berkaitan dengan terjadinya kebakaran.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan polisi telah mengantongi sejumlah nama dalam penyelidikan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan upaya pemadaman titik api yang masih menyala.

Baca Juga: Kader PDIP: Ini Bukan Soal Suka atau Tidak Suka ke Gibran, Ini Soal Keadilan dan Standar Pendidikan

"Beberapa nama sudah kita amankan," kata Sigit, dikutip Sabtu (22/8/2026).

Penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman. Polisi juga bergerak untuk mencari penyebab serta pihak yang diduga bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah daerah.

Sigit mengatakan jajarannya telah diarahkan untuk menjalankan dua tugas secara bersamaan, yakni membantu pemadaman dan melakukan proses penyelidikan.

"Saat ini yang sedang kita lakukan, pemadaman sekaligus juga kita lakukan lidik dan investigasi terkait dengan peristiwa yang terjadi," ucapnya.

Skala dampak karhutla terlihat dari data Kementerian Kesehatan. Sebanyak 3.158.166 warga tercatat terdampak akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera.

Mereka tersebar di 29 kabupaten/kota yang berada di tujuh provinsi. Wilayah yang tercatat terdampak antara lain Kalimantan Selatan, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Jambi.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya menjadi persoalan kawasan hutan atau lahan yang terbakar. Ketika asap menyebar ke wilayah permukiman, masyarakat yang tinggal jauh dari titik api pun ikut menghadapi dampaknya.

Salah satu dampak yang mulai terlihat adalah meningkatnya gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan asap kebakaran.

Kemenkes mencatat adanya peningkatan sejumlah penyakit di beberapa provinsi terdampak. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla memiliki konsekuensi langsung terhadap kesehatan masyarakat.

Di Kalimantan Tengah, misalnya, terjadi peningkatan signifikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam waktu singkat.

Pada 18 Agustus 2026, tercatat sebanyak 475 kasus ISPA. Sehari kemudian, jumlah tersebut meningkat menjadi 547 kasus pada 19 Agustus 2026.

Kenaikan kasus tersebut terjadi ketika persoalan karhutla masih menjadi perhatian. Asap dan kualitas udara yang memburuk dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.

Kondisi serupa juga terlihat di Kalimantan Barat. Kemenkes mencatat total kasus ISPA mencapai 151.965 kasus sepanjang periode 1 Januari hingga 7 Agustus 2026.

Kenaikan kasus ISPA di Kalimantan Barat tercatat di sejumlah daerah, termasuk Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Mempawah.

Dampak kesehatan karhutla juga terlihat di Kalimantan Selatan. Kemenkes mencatat kenaikan tren beberapa jenis penyakit di wilayah tersebut.

Kasus ISPA mengalami peningkatan sebesar 22,2 persen, sementara diare akut naik 16,7 persen. Selain itu, suspek demam tifoid meningkat 7,1 persen, sedangkan influenza-like illness (ILI) juga naik 7,1 persen.

Sementara itu, tren kasus pneumonia justru mengalami penurunan sebesar 2,5 persen.

Di Riau, selama periode 1–19 Agustus 2026, tercatat 1.377 kasus ISPA. Selain itu, terdapat 34 kasus asma, 19 kasus iritasi kulit, enam kasus konjungtivitis, serta 12 kasus pneumonia.

Baca Juga: Dituduh Terlibat Upaya Gembosi Prabowo Demi Uang, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi: Honor Saya...

Data tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla dapat menjalar jauh melampaui wilayah yang terbakar. Masyarakat menghadapi risiko kesehatan ketika kualitas udara memburuk dan asap kebakaran menyelimuti permukiman.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar