Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BNPB Ungkap Hoaks Gempa NTT Lebih Besar dan Tsunami Picu Warga Flores Mengungsi

BNPB Ungkap Hoaks Gempa NTT Lebih Besar dan Tsunami Picu Warga Flores Mengungsi Kredit Foto: YouTube Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Flores -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap informasi tidak benar mengenai ancaman gempa susulan yang lebih besar dan tsunami turut memicu kepanikan warga di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Informasi tersebut membuat sebagian warga memilih mengungsi secara mandiri ke lokasi yang jauh dari titik pengungsian yang telah disiapkan pemerintah.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan hal tersebut saat memberikan laporan penanganan gempa Flores kepada Presiden Prabowo Subianto di Posko Penanganan Bencana Gempa Bumi NTT, Kabupaten Nagekeo, Rabu (26/8/2026).

Menurut Suharyanto, hingga hari ke-12 penanganan, aktivitas gempa masih terjadi. BNPB mencatat sebanyak 7.259 kali gempa sejak 15 Agustus hingga 25 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 143 gempa susulan dirasakan oleh masyarakat.

Namun, Suharyanto menegaskan bahwa tidak ada lagi gempa susulan dengan kekuatan melebihi gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7. BNPB juga terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memberikan informasi terkini kepada masyarakat.

“Tetapi yang tidak ada lagi gempanya di atas 7,7. Ada gempa yang 6,2,” ujar Suharyanto dalam rapat koordinasi tersebut.

Ia menjelaskan, tingginya frekuensi gempa susulan membuat masyarakat mengalami ketakutan. Kondisi tersebut diperparah oleh beredarnya sejumlah informasi di media sosial yang menyebut akan terjadi gempa lebih besar hingga tsunami.

“Jumlah pengungsian yang banyak ini bukan karena terdampak gempa secara langsung, tetapi karena gempa susulannya banyak mereka ketakutan dan juga ada beberapa isu dari media sosial yang menyatakan bahwa akan ada gempa susulan yang lebih besar bahkan ada tsunami,” jelasnya.

Baca Juga: Jelajahi Lokasi Terisolir, TelkomGroup Salurkan Bantuan Rp1,3 Miliar untuk Korban Gempa NTT

BNPB kemudian menggencarkan edukasi dan penyebaran informasi resmi untuk menangkal isu tersebut. Pemerintah juga mengimbau masyarakat mengikuti informasi dari lembaga berwenang dan tidak mudah mempercayai kabar yang tidak memiliki sumber jelas.

Sebelumnya, BNPB juga telah menegaskan bahwa isu mengenai tsunami susulan merupakan informasi yang tidak benar. Masyarakat diminta tetap waspada, tetapi tidak panik atau takut secara berlebihan.

Sementara itu, gempa utama yang terjadi pada 15 Agustus 2026 memang sempat memicu peringatan dini tsunami. BMKG mencatat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer. Peringatan dini tsunami kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB pada hari yang sama.

Dalam laporan kepada Presiden, BNPB mencatat sebanyak 105 orang meninggal dunia, 1.678 orang mengalami luka-luka, dan 179.037 orang mengungsi. Sebanyak 81.436 rumah juga dilaporkan mengalami kerusakan.

Suharyanto mengatakan sebagian pengungsi memilih lokasi pengungsian mandiri yang tersebar dan sulit dijangkau. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam memastikan bantuan logistik sampai kepada masyarakat.

“Kesulitan kami yang dari kecamatan, dari desa menuju orangnya itu aja butuh waktu supaya kita jalan kaki, naik motor seperti itu,” katanya.

Untuk menjangkau titik-titik terpencil, pemerintah mengerahkan berbagai moda transportasi, termasuk sekitar 200 sepeda motor untuk membawa bantuan ke lokasi pengungsian yang sulit dijangkau kendaraan besar.

Di tengah masih berlangsungnya aktivitas gempa, BNPB meminta masyarakat Flores tetap waspada tanpa mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Pemerintah menekankan agar masyarakat mengandalkan informasi resmi dari BNPB, BMKG, pemerintah daerah, dan instansi berwenang lainnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah