Bangun Ekosistem Bioenergi, ASPEBINDO Hubungkan Talenta, Teknologi, Pembiayaan, dan Pasar Karbon
Kredit Foto: Istimewa
Asosiasi Pengusaha Bioenergi Indonesia (ASPEBINDO) mendorong percepatan pengembangan bioenergi dengan memperkuat keterhubungan antara talenta, teknologi, pembiayaan, kepastian pasar, dan perdagangan karbon. Langkah ini dinilai penting agar potensi bioenergi dapat berkembang menjadi proyek komersial yang memberikan nilai ekonomi.
Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian Sharing Session V hingga VII ASPEBINDO Bioenergy Business Summit 2026 yang membahas pengembangan talenta, komersialisasi biogas dan Bio-CNG, serta pembangunan pasar karbon yang berintegritas.
Ketua Panitia ASPEBINDO Bioenergy Business Summit 2026, M. Hadi Nainggolan, mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan bioenergi, tetapi perlu jalur yang menghubungkan potensi tersebut dengan industri, pembiayaan, kontrak penyerapan, dan pasar.
“Indonesia memiliki talenta, teknologi, bahan baku, dan potensi penurunan emisi yang besar. Pekerjaan kita adalah membangun jalur yang menghubungkan seluruh potensi tersebut dengan industri, pembiayaan, kontrak penyerapan, dan pasar,” ujar Hadi.
Ketua Umum DPP ASPEBINDO Anggawira menambahkan, peningkatan kompetensi pelaku usaha menjadi faktor penting agar perusahaan nasional semakin kompetitif dalam bisnis energi hijau.
Pengembangan talenta menjadi salah satu perhatian melalui Bioenergy Talent 2026, kompetisi bisnis nasional yang menjaring sekitar 300 proposal mahasiswa. Gagasan yang diajukan mencakup B50, bioetanol, biomassa, Waste-to-Energy, biogas dan Bio-CNG.
Sebanyak 20 tim terbaik mengikuti poster exhibition, sebelum tiga tim melaju ke Grand Final. Penilaian mencakup inovasi, kelayakan bisnis, dampak, skalabilitas, dan presentasi.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mengatakan Indonesia memiliki sumber daya bioenergi yang sangat besar.
“Indonesia tidak kekurangan bahan bioenergi. Bahkan kalau mau dihitung surplus,” ujar Fauzan.
ASPEBINDO menilai talenta muda perlu mendapat pendampingan agar gagasan tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat berkembang menjadi proyek atau usaha. Dukungan yang dibutuhkan antara lain mentoring, fasilitas uji, perlindungan kekayaan intelektual, proyek percontohan, serta akses kepada investor dan calon pembeli.
Pada sesi biogas dan Bio-CNG, dibahas peluang mengolah limbah sawit, peternakan, pertanian, pangan, dan sampah organik menjadi gas terbarukan.
Sedikitnya tiga fasilitas Bio-CNG komersial telah dikembangkan di Indonesia dengan kapasitas sekitar 290, 360, dan 530 MMBtu per hari. Proyek lain di Jambi dirancang berkapasitas sekitar 1.200 meter kubik per jam dan ditargetkan memasuki commissioning sebelum Februari 2027.
Ketua Masyarakat Biometana Indonesia Yasmine Surachman Umar mengatakan kepastian pembeli dan pembiayaan menjadi tantangan utama pengembangan proyek.
“Teknologi dan bahan bakunya tersedia, tetapi proyek membutuhkan kepastian offtake agar memperoleh pembiayaan,” kata Yasmine.
Menurutnya, pembiayaan dapat menggabungkan modal pengembang, pinjaman komersial, pembiayaan hijau, dukungan pemerintah, dan pendapatan karbon. Namun, Robbi R. Sukardi menekankan pendapatan karbon sebaiknya menjadi penguat kelayakan proyek, bukan satu-satunya dasar bisnis.
ASPEBINDO juga mendorong pengembangan pasar karbon melalui kerja sama dengan PT ESGIN Global Partners. Keduanya menandatangani nota kesepahaman yang mencakup identifikasi proyek, metodologi, penguatan Measurement, Reporting and Verification (MRV), validasi dan verifikasi, pembiayaan, serta akses pasar.
Vice President Regional Head Indonesia ESGIN Global Partners Yayang Ruzaldy mengatakan proyek karbon harus didukung metodologi yang tepat, MRV yang kuat, integritas tinggi, struktur pembiayaan yang jelas, dan akses pasar.
“Di balik setiap unit karbon harus terdapat proyek dan aktivitas mitigasi yang nyata, data yang dapat diverifikasi, serta dampak lingkungan yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Yayang.
Baca Juga: Indonesia Butuh 12 Juta Talenta AI, yang Tersedia Baru 30%!
ASPEBINDO dan ESGIN selanjutnya akan memetakan aset, sumber emisi, potensi mitigasi, kesiapan data, serta kelayakan komersial untuk membentuk pipeline proyek karbon.
Hadi mengatakan hasil summit akan ditindaklanjuti melalui pemetaan proyek, forum investasi, peningkatan kompetensi anggota, pendampingan talenta, dan kemitraan antara pemilik proyek, penyedia teknologi, pembeli, serta lembaga pembiayaan.
“Ukurannya adalah terbentuknya pipeline proyek, kemitraan baru, peningkatan kompetensi anggota, proyek percontohan, akses pembiayaan, dan transaksi bisnis yang tetap menjaga integritas lingkungan serta manfaat bagi masyarakat,” tutup Hadi.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat