Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kunci High Level Networking: Mengubah Transaksi Menjadi Relasi Kepercayaan

Kunci High Level Networking: Mengubah Transaksi Menjadi Relasi Kepercayaan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah persaingan bisnis yang semakin kompetitif, networking kerap dianggap sebagai salah satu jalan untuk membuka akses, mendapatkan pelanggan, maupun memperluas peluang usaha. 

Namun, Strategist Networking Advisor & Partner, Elizabeth Setiaatmadja, mengingatkan bahwa networking bukanlah sekadar aktivitas bertukar kartu nama atau mengumpulkan kontak orang-orang penting.

Menurut Elizabeth, kekuatan networking justru terletak pada kemampuan seseorang membangun hubungan, menciptakan kepercayaan, dan memberikan nilai bagi orang lain sebelum mengharapkan sesuatu sebagai imbalan.

“Networking itu bukan cara gampang sukses, bukan cara cepat kaya. Tapi cara membangun hubungan, cara panjang yang lekat,” ujar Elizabeth saat menjadi pembicara dalam sesi “High Level Networking: The Hidden Engine Behind Retail Growth” pada Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026 di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Elizabeth yang dikenal sebagai Strategic Networking Partner & Advisor serta Maxwell Thought Leader membagikan pengalaman perjalanan karier dan bisnisnya, sekaligus menjelaskan bagaimana networking telah menjadi bagian penting dalam berbagai fase kehidupannya.

Dari Auditor hingga Membangun Bisnis dari Nol

Perjalanan Elizabeth tidak dimulai dari dunia networking maupun bisnis.

Setelah menyelesaikan pendidikan dan kembali ke Indonesia pada 2004, ia mengawali karier sebagai auditor di EY. Selama sekitar dua setengah tahun, Elizabeth menjalani dunia kerja dengan ritme yang sangat padat.

Karier tersebut kemudian berakhir ketika kondisi kehidupan membuatnya mengambil keputusan untuk meninggalkan dunia audit. Bersama suaminya, Elizabeth kemudian membangun bisnis video production dari nol.

Menariknya, justru dalam proses membangun bisnis tersebut Elizabeth menemukan satu pelajaran penting: pelanggan tidak selalu membutuhkan seseorang yang hanya menjual produk atau jasa.

Mereka membutuhkan seseorang yang mampu memahami kebutuhan mereka.

Saat mengikuti berbagai pameran, termasuk pameran pernikahan, Elizabeth tidak hanya menawarkan jasa video production kepada calon pengantin. Ia juga berusaha membantu mereka melihat kebutuhan lain yang mungkin belum terpikirkan.

“Udah dapat baju belum? Udah dapat ini belum? Ada yang bisa saya bantu nggak?” menjadi bentuk perhatian yang ia berikan kepada calon klien.

Bagi Elizabeth, hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, justru di situlah konsep extra value bekerja.

Baca Juga: OJK Resmi Beri Izin Sun Life Financial Syariah Indonesia

Baca Juga: Komdigi dan OJK Mau Uji AI di Sektor Keuangan, Ada 'Sandbox' Lintas Industri

Bisnisnya adalah video production, tetapi ia tidak membatasi kepeduliannya hanya pada layanan yang dijual.

“Bisnisnya adalah video production. Tapi kalau pengantinnya belum dapat baju, ditanyain. Ini tidak berhubungan dengan baju yang dia pakai. Tapi itu extra value,” jelasnya.

Dari perhatian sederhana tersebut, kepercayaan mulai tumbuh. Calon klien menjadi lebih nyaman untuk bercerita mengenai kebutuhan mereka. Hubungan yang awalnya bersifat transaksional kemudian berkembang menjadi relasi yang lebih panjang.

Bahkan, rekomendasi bisnis muncul secara alami dari jaringan tersebut.

Memberi Sebelum Meminta

Bagi Elizabeth, inilah perbedaan antara sekadar memiliki koneksi dengan benar-benar membangun networking.

Ia menilai banyak orang masih memandang networking secara transaksional. Seseorang mendekati orang lain karena melihat jabatan, nama besar, akses, atau potensi bisnis yang dapat diperoleh.

Padahal, memiliki nomor telepon seseorang tidak otomatis berarti memiliki hubungan dengannya.

“Networking itu bukan tiba-tiba dapat Om Rahmat, kemudian minta nomor telepon. Punya nomor teleponnya Om Rahmat terus bisa ngapain?” katanya.

Elizabeth menilai kualitas networking ditentukan oleh tingkat kepercayaan yang terbangun, bukan jumlah kontak yang dimiliki.

Karena itu, pendekatan yang ia gunakan adalah memberikan extra value terlebih dahulu.

Ketika seseorang merasa mendapatkan manfaat dari sebuah hubungan tanpa langsung dibebani kepentingan bisnis, kepercayaan akan lebih mudah tumbuh.

“Kalau saya sudah memberikan extra value, orang malah lebih happy mendengar advice saya. Karena mereka tahu saya masih neutral,” ujarnya.

Prinsip Networking Teruji Saat Pandemi

Pandangan Elizabeth mengenai kekuatan networking semakin teruji ketika pandemi COVID-19 melanda.

Di tengah situasi sulit tersebut, ia bersama sejumlah teman terlibat dalam gerakan sosial dan kemanusiaan, termasuk membantu penyediaan alat pelindung diri (APD).

Gerakan tersebut tidak dimulai sebagai aktivitas bisnis untuk mengejar keuntungan. Namun, jaringan yang selama ini dibangun justru membantu gerakan tersebut berkembang dengan cepat.

Elizabeth memanfaatkan media sosial dan jaringan pertemanan untuk menyebarkan informasi. Saat itu, akun Instagram miliknya memiliki sekitar 2.000 pengikut.

Namun, informasi mengenai gerakan tersebut kemudian dibagikan oleh jaringan pertemanan dan orang-orang media. Dalam waktu relatif singkat dan

tidak terasa program ini hasil kerjasama berbagai lapisan masyarakat berhasil menghasilkan sumbangan sebesar 364 ribu APD yg dibagikan keseluruh Indonesia

Kerja sama yang pada awalnya hanya melibatkan satu pihak juga berkembang menjadi sekitar 10 pihak dalam waktu kurang lebih dua minggu.

Bagi Elizabeth, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa networking tidak selalu harus dimulai dari kepentingan bisnis.

Ketika hubungan dibangun dengan ketulusan dan seseorang memiliki kemauan untuk hadir serta membantu, peluang dapat muncul dengan sendirinya.

Networking sebagai Investasi Jangka Panjang

Dalam konteks industri retail dan bisnis secara lebih luas, Elizabeth melihat networking sebagai salah satu aset yang tidak bisa dibangun dalam semalam.

Apalagi, perkembangan bisnis saat ini membuat pelaku usaha tidak hanya berhadapan dengan kompetisi produk dan harga, tetapi juga harus mampu membangun pengalaman, kepercayaan, dan hubungan dengan pelanggan maupun mitra.

Karena itu, networking tidak seharusnya dipahami sebagai “jalan pintas” menuju kesuksesan.

“Networking itu bukan cara gampang sukses, bukan cara cepat kaya,” tegasnya.

Menurut Elizabeth, seseorang tetap harus melakukan bagiannya dengan hadir, membuka diri, membangun relasi, dan memberikan kontribusi. Namun, ke mana hubungan tersebut akan berkembang merupakan sesuatu yang tidak selalu dapat diprediksi.

“Kita melakukan bagian kita, yaitu yes, I want to come. Tapi selebihnya, jalan dan sebagainya itu menurut saya bukan kita yang menentukan,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi relevan ketika disampaikan dalam sesi High Level Networking di Indonesia Retail Summit & Expo 2026 yang mempertemukan para pelaku industri, pemimpin bisnis, brand, serta berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem retail.

Bagi Elizabeth, pada akhirnya networking bukan tentang siapa yang paling banyak dikenal, melainkan seberapa besar kepercayaan yang berhasil dibangun.

Ia mengajak para profesional dan pelaku bisnis untuk mengubah pertanyaan ketika membangun jaringan. Bukan lagi semata-mata bertanya, “Apa yang bisa saya dapat dari orang ini?”, tetapi terlebih dahulu melihat, “Apa yang bisa saya berikan?”

Sebab, hubungan yang dibangun dengan ketulusan, konsistensi, dan extra value dapat menjadi aset jangka panjang yang nilainya jauh melampaui sekadar satu transaksi bisnis.

Dari situlah, networking menjadi “hidden engine” yang sesungguhnya bagi pertumbuhan bisnis.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: