Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim perekonomian Indonesia tetap mampu bertahan di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat tensi geopolitik. Klaim tersebut didukung sejumlah indikator ekonomi yang menurutnya menunjukkan stabilitas nasional masih terjaga sepanjang 2025.
Purbaya menyebut perekonomian Indonesia pada 2025 tumbuh 5,11 persen. Pada periode yang sama, inflasi berada di level 2,92 persen dan defisit anggaran tercatat sebesar 2,81 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menurut Purbaya, tekanan global sebenarnya berpotensi memberikan dampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Meningkatnya tensi geopolitik dapat memicu tekanan terhadap pasar keuangan, memperlambat investasi, hingga mengganggu rantai pasok global.
"Hal ini kemudian meningkatkan resiko stabilitas ekonomi, tekanan terhadap pasar keuangan, perlambatan investasi, dan terganggu rantai pasok global. Namun kita harus bersyukur, di tengah gejolak tersebut, stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga," kata Purbaya dalam Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya setelah DPR mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2025 dalam Rapat Paripurna ke-3 Masa Persidangan I.
Purbaya menilai stabilitas ekonomi tersebut tidak terlepas dari kebijakan fiskal pemerintah sepanjang 2025. Menurutnya, APBN tetap berfungsi sebagai instrumen untuk menjaga perekonomian sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat.
Indikator kesejahteraan yang disorot Purbaya adalah penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran. Pemerintah menggunakan capaian tersebut sebagai salah satu gambaran bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka makro.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Dividen BUMN Rp120 Triliun, Bisa Tambah Keutungan Fiskal
Purbaya menyebut tingkat pengangguran pada Agustus 2025 berada di angka 4,85 persen. Angka tersebut disebut lebih rendah dibandingkan tingkat pengangguran pada Agustus 2024 yang menurut Purbaya berada di angka 8,57 persen.
Sementara itu, tingkat kemiskinan pada September 2025 tercatat sebesar 8,25 persen. Angka tersebut turun dibandingkan September 2024 yang berada di level 8,57 persen.
"Tingkat kemiskinan yang juga turun menjadi 8,25% pada September 2025 lebih rendah jika dibandingkan September 2024 yang mencapai 8,57%," jelas Purbaya.
Meski membawa sejumlah indikator positif, pemerintah masih menghadapi tantangan untuk menjaga momentum tersebut. Purbaya menegaskan APBN ke depan harus tetap sehat dan kredibel agar mampu merespons perubahan kondisi ekonomi tanpa kehilangan fungsi sebagai pendorong pertumbuhan.
"APBN akan terus dijaga tetap sehat dan kredibel sehingga menjadi instrumen fiskal yang adaptif, responsif dan efektif dalam menstimulasi perekonomian dan mewujudkan kesejahteraan rakyat," pungkas Purbaya.
Pemerintah menempatkan stabilitas ekonomi 2025 sebagai salah satu bukti bahwa Indonesia masih memiliki daya tahan menghadapi tekanan eksternal. Tantangan berikutnya adalah memastikan capaian tersebut dapat dipertahankan ketika ketidakpastian global masih berlanjut.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: