Kredit Foto: Sekretariat Presiden
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah tidak ingin bergantung pada pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF). Menurutnya, Indonesia masih memiliki kemampuan untuk menjalankan pembangunan dengan kekuatan ekonomi sendiri.
Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam Penutupan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Senin (31/8/2026).
Prabowo mengungkapkan, pemerintah bahkan sempat mendapatkan tawaran pinjaman dari IMF. Namun, tawaran tersebut ditolak.
"Kalau kita pinjam uang, kita mau pinjam uang yang bunganya sekecil mungkin," kata Prabowo.
Baca Juga: Prabowo Disebut Sedang Batasi Ruang Gerak PSI Biar Tak Jadi Partai Besar
Ia kemudian menceritakan bahwa Menteri Keuangan sempat mendapat tawaran pinjaman dari IMF saat berada di Washington DC beberapa bulan lalu. Pemerintah, kata Prabowo, memilih untuk tidak mengambil tawaran tersebut.
"Saya kira kemarin berapa bulan yang lalu kaget Menteri Keuangan kita di Washington DC ditawarin pinjaman dari IMF kita tolak. Terima kasih. Indonesia masih bisa tanpa pinjaman dari IMF," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menekankan pentingnya pengelolaan kekayaan nasional agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Ia menilai seluruh kekayaan Indonesia harus dikelola sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh rakyat.
"Kuncinya adalah kita mengelola semua kekayaan kita sehingga bisa dimanfaatkan oleh seluruh rakyat kita," ujar Prabowo.
Prabowo juga menyoroti peran NU sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Menurutnya, NU memiliki kepentingan besar agar kehidupan warganya semakin layak.
Ia menegaskan pemerintah tidak menetapkan ambisi untuk membuat masyarakat Indonesia hidup seperti negara-negara maju. Menurutnya, ukuran kesejahteraan yang ingin dicapai adalah terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat secara layak.
"Kita hanya ingin rakyat kita hidup dengan layak, hidup dengan baik, bisa makan dengan baik, punya rumah yang layak, punya penghasilan tiap bulan yang layak, yang cukup," katanya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah