Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Belajar dari Filipina, Syahganda Sebut Prabowo Bisa Pinggirkan Gibran

Belajar dari Filipina, Syahganda Sebut Prabowo Bisa Pinggirkan Gibran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat politik Syahganda Nainggolan melihat dinamika hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpotensi mengarah pada penyingkiran politik. Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan hubungan Presiden Filipina Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. dan Wakil Presiden Sara Duterte yang awalnya berkoalisi tetapi kemudian mengalami keretakan.

Menurut Syahganda, pengalaman Filipina menunjukkan bahwa posisi wakil presiden tidak otomatis membuat seseorang selalu berada di lingkaran utama kekuasaan. Ia menilai pola serupa secara politik bisa saja terjadi di Indonesia jika hubungan antara presiden dan wakil presiden berubah.

"Kalau misalkan kita lihat misalkan antara Sarah Duterte di Filipina ya kan wakil presiden dengan Bongbong Marcos misalnya seperti itu. Itu kan penyingkirannya kan penyingkiran politik. Nah, itu juga bisa dilakukan oleh Pak Presiden Prabowo untuk semakin melakukan penyingkiran politik," ujar Syahganda dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Selasa (1/9/2026).

Syahganda menilai contoh Sara Duterte menjadi penting karena pasangan tersebut sebelumnya maju bersama dalam Pemilu Filipina 2022 melalui aliansi UniTeam. Namun, hubungan politik keduanya kemudian memburuk dan Sara disebut semakin tersisih dari pusat kekuasaan.

Kondisi tersebut membuat Syahganda melihat kemungkinan yang sama terhadap Gibran, meski ia tidak menyatakan bahwa penyingkiran politik terhadap putra Presiden ke-7 RI Joko Widodo tersebut sudah terjadi. Menurutnya, sejumlah sikap dan pola dalam pemerintahan Prabowo-Gibran justru memunculkan pertanyaan mengenai seberapa besar ruang politik yang diberikan kepada sang wakil presiden.

Salah satu hal yang disoroti Syahganda adalah keterlibatan Gibran dalam sejumlah agenda pemerintahan. Ia menyebut Gibran terkadang tidak ikut dalam perjalanan dinas Presiden Prabowo dan belum terlihat mendapatkan peran besar seperti yang pernah dijalankan Jusuf Kalla ketika menjadi wakil presiden.

Syahganda juga menyinggung posisi Gibran dalam rapat kabinet. Menurut dia, Gibran beberapa kali tidak duduk di sebelah Prabowo sehingga memunculkan pertanyaan publik mengenai pola hubungan keduanya.

"Kadang Gibran enggak diajak perjalanan, kemudian tidak diberikan kesempatan untuk memimpin rapat seperti Pak JK dulu. Kemudian dalam rapat kabinet, Gibran sering tidak duduk di sebelah presiden," kata Syahganda.

Bagi Syahganda, situasi tersebut menjadi kontras dengan kedekatan Prabowo dan Jokowi yang beberapa kali diperlihatkan secara terbuka. Prabowo bahkan pernah meneriakkan “Hidup Jokowi!” ketika menghadiri HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul, Bogor, pada 15 Februari 2025.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menyebut keberhasilannya mendapatkan kepercayaan rakyat pada Pemilu 2024 tidak terlepas dari dukungan Koalisi Indonesia Maju serta Jokowi. Pernyataan tersebut menjadi salah satu contoh yang digunakan untuk menggambarkan kedekatan politik Prabowo dengan Jokowi.

Baca Juga: Prabowo Tiba di Rusia, Mahasiswa Indonesia Berebut Sambut: Saya Bangga Punya Presiden Seperti Bapak

Namun, gambaran tersebut tidak sepenuhnya menunjukkan adanya jarak antara Prabowo dan Gibran. Pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, 17 Agustus 2026, Prabowo justru terlihat duduk di antara Jokowi dan Gibran saat menyaksikan rangkaian pertunjukan setelah upacara.

Momen tersebut bahkan dinilai Gerindra sebagai gambaran suasana kebersamaan yang baik. Mensesneg Prasetyo Hadi juga menyebut hubungan Prabowo dan Jokowi memang akrab, sementara posisi duduk tersebut dijelaskan sebagai bentuk penghormatan kepada presiden terdahulu yang hadir dalam upacara.

Karena itu, perbandingan dengan Filipina yang disampaikan Syahganda belum bisa menjadi bukti bahwa Prabowo sedang meminggirkan Gibran. Hubungan politik Prabowo dan Gibran masih berjalan dalam pemerintahan, sementara sejumlah momen publik justru memperlihatkan keduanya tetap tampil bersama.

Meski demikian, Syahganda menilai dinamika politik seperti yang terjadi antara Marcos Jr. dan Sara Duterte layak menjadi pelajaran. Menurutnya, hubungan antara presiden dan wakil presiden dapat berubah seiring dengan kepentingan politik, sehingga posisi Gibran tetap perlu dilihat dari perkembangan peran dan pengaruhnya di pemerintahan.

Syahganda pada akhirnya mengingatkan bahwa posisi sebagai wakil presiden tidak serta-merta menjamin seseorang selalu memiliki pengaruh politik yang kuat. Ia membuka kemungkinan bahwa jika terjadi perubahan kepentingan di lingkaran kekuasaan, Prabowo juga dapat mengambil langkah politik yang membuat Gibran semakin berada di luar pusat pengambilan keputusan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama