Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sungai Surut, Tongkang Batu Bara di Kaltim Tak Bisa Jalan

Sungai Surut, Tongkang Batu Bara di Kaltim Tak Bisa Jalan Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Aktivitas angkutan batu bara di Kalimantan Timur mulai terganggu akibat surutnya sejumlah sungai. Kondisi tersebut membuat tongkang kesulitan melintas sehingga pengiriman komoditas energi itu terhambat.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, mengatakan persoalan tersebut bukan disebabkan pembatasan produksi batu bara, melainkan menurunnya debit air sungai yang menjadi jalur utama pengangkutan.

“Itu ya saya cek itu kemarin di Kalimantan Timur. Ya, justru, ya karena sungai mengering, tongkangnya enggak bisa jalan,” kata Yuliot usai menghadiri The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Menurut dia, surutnya sungai membuat kapal tongkang tidak dapat beroperasi secara normal.

“Itu ya bukan karena dibatasi produksinya, karena air untuk ngalirin tongkangnya enggak ada,” ujarnya.

Gangguan jalur sungai tersebut menambah persoalan logistik energi di Kalimantan. Sebelumnya, Kementerian ESDM juga mengungkapkan kondisi sungai yang surut telah menghambat distribusi bahan bakar minyak (BBM) ke sejumlah wilayah.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan kapal yang selama ini mengandalkan jalur sungai mengalami kendala akibat turunnya debit air.

“Di Kalimantan ini banyak terjadi. Saat ini, sungai ini mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan melalui jalur sungai terkendala untuk proses pengiriman BBM,” ujar Laode dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga: Bauran EBT Indonesia Turun Jadi 17,3% di Semester I 2026, ESDM Bongkar Penyebabnya

Baca Juga: Ramai Ditolak Warga, ESDM Buka Suara soal PLTP Ungaran

Pemerintah telah mengalihkan sebagian distribusi BBM melalui jalur darat dengan menambah armada truk. Namun, kapasitas angkut moda tersebut lebih kecil dibandingkan distribusi menggunakan jalur sungai.

Surutnya sungai juga mulai berdampak pada kebutuhan masyarakat. Wali Kota Samarinda Andi Harun sebelumnya meminta warga menghemat penggunaan air bersih menyusul penurunan debit Sungai Mahakam selama kemarau panjang.

Penyusutan debit Sungai Mahakam turut mempengaruhi operasional sejumlah fasilitas pengambilan air bersih atau intake di Palaran, Pulau Atas, Bukuan, dan Bantuas. Selain debit air yang menurun, meningkatnya kadar klorida juga menjadi persoalan karena berpengaruh terhadap kualitas air yang dapat didistribusikan kepada masyarakat.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra