Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum benar-benar berakhir. Kondisi yang terjadi sepanjang 2026 justru dinilai harus menjadi alarm keras bagi pemerintah agar tidak lengah, terutama karena risiko kebakaran yang lebih besar diperkirakan dapat terjadi pada 2027.
Anggota Komisi IV DPR RI Riyono meminta pemerintah mulai bergerak sejak dini. Menurutnya, kebakaran yang terjadi di sejumlah daerah, terutama Kalimantan dan Sumatera, menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi karhutla tidak bisa hanya mengandalkan penanganan ketika api sudah telanjur meluas.
“Ini belum puncaknya. Karena itu, mitigasi harus disiapkan dari sekarang. Jangan sampai kita menunggu kejadian besar baru kemudian sibuk melakukan penanganan,” kata Riyono, dikutip dari laman DPR, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: Di Hadapan Putin, Prabowo Bongkar Alasan MBG Dijalankan
Peringatan tersebut tidak lepas dari pengalaman kebakaran besar yang pernah terjadi pada 2015 dan 2019. Meski data dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan luas lahan terbakar cenderung mengalami penurunan, kondisi tersebut menurut Riyono tidak boleh membuat pemerintah terlena.
Perubahan kondisi iklim dan musim kering ekstrem juga dapat kembali meningkatkan risiko kebakaran. Kawasan gambut menjadi salah satu wilayah yang dinilai sangat perlu diwaspadai karena memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran.
Riyono bahkan mengatakan dirinya sebelumnya telah mengingatkan Kementerian Kehutanan mengenai potensi meningkatnya ancaman kebakaran pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Kini, munculnya kebakaran di berbagai wilayah dinilai menjadi pembuktian bahwa peringatan dini tidak boleh dianggap sepele.
“Yang terjadi sekarang membuktikan bahwa peringatan dini harus benar-benar menjadi perhatian. Titik-titik kebakaran muncul di sejumlah wilayah dan ini harus menjadi pelajaran untuk mempersiapkan langkah menghadapi tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.
Baca Juga: Menhut Raja Juli: Bukan Kebakaran, Karhutla Ini Hampir Pasti Dibakar Oleh...
Bukan hanya lingkungan yang terancam, karhutla juga dapat membawa pukulan besar terhadap perekonomian. Riyono menyinggung pengalaman kebakaran besar pada 2019 yang menimbulkan kerugian hingga ratusan triliun rupiah.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa kegagalan melakukan pencegahan sejak dini dapat membuat kerugian jauh lebih besar. Dampaknya bukan hanya dirasakan negara, tetapi juga masyarakat dan lingkungan.
Di sisi lain, persoalan sumber daya manusia di sektor kehutanan juga dinilai perlu segera dibenahi. Riyono menyoroti jumlah personel yang masih terbatas jika dibandingkan dengan luas kawasan hutan yang harus diawasi. Akibatnya, pengawasan di lapangan belum dapat berjalan maksimal.
“Dengan wilayah hutan yang sangat luas, tentu tidak mungkin hanya mengandalkan jumlah petugas yang ada sekarang. Kita membutuhkan penguatan SDM, baik penyuluh kehutanan, Manggala Agni maupun polisi hutan,” katanya.
Riyono mendukung penambahan personel untuk memperkuat pengawasan kawasan hutan secara menyeluruh. Menurutnya, pengamanan tidak boleh baru dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi harus dimulai dengan mencegah aktivitas yang berpotensi merusak kawasan hutan.
Keterlibatan masyarakat juga dinilai tidak kalah penting. Warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan dapat menjadi bagian dari sistem pengawasan sekaligus pencegahan kebakaran. Dengan deteksi lebih cepat, potensi kebakaran diharapkan dapat diketahui sebelum api berkembang menjadi lebih besar.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: