Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Pasar kendaraan listrik Indonesia mulai memasuki fase baru. Mobil berbasis baterai tidak lagi sekadar menjadi produk alternatif, tetapi sudah mengambil porsi yang semakin besar dalam penjualan kendaraan roda empat nasional.
Di tengah pertumbuhan tersebut, Indonesia mulai menghadapi tantangan berikutnya: bagaimana mengubah pasar yang semakin besar menjadi basis produksi dan sumber nilai tambah bagi industri dalam negeri.
Kehadiran pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, menjadi salah satu gambaran perubahan tersebut. Produsen kendaraan listrik asal China itu kini mulai memproduksi kendaraan di Indonesia setelah sebelumnya mengandalkan impor mobil utuh untuk memenuhi pasar domestik.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pertumbuhan pasar kendaraan elektrifikasi perlu diikuti dengan penguatan kapasitas produksi dan struktur industri di dalam negeri.
“Besarnya pangsa kendaraan elektrifikasi menunjukkan penerimaan konsumen Indonesia terhadap teknologi kendaraan rendah emisi semakin kuat,” ujar Agus dalam peresmian fasilitas produksi BYD Motor Indonesia di Subang, Kamis (3/9).
Hingga April 2026, populasi kendaraan listrik di Indonesia telah mencapai sekitar 486.000 unit. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 242.000 kendaraan roda dua dan 223.000 kendaraan roda empat, sementara sisanya berasal dari berbagai jenis kendaraan listrik lainnya.
Pada segmen roda empat, pertumbuhannya juga semakin terlihat. Sepanjang semester I 2026, penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) mencapai sekitar 70.000 unit dengan pangsa pasar sekitar 16 persen.
Sementara itu, penjualan Hybrid Electric Vehicle (HEV) mencapai sekitar 40.400 unit dengan pangsa pasar mendekati 10 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa konsumen mulai memberikan ruang lebih besar bagi kendaraan dengan teknologi elektrifikasi. Bagi industri, kondisi ini sekaligus menciptakan dasar permintaan yang diperlukan untuk membangun kapasitas produksi lokal.
Indonesia kini tidak hanya berhadapan dengan pertanyaan mengenai seberapa besar pasar kendaraan listrik dapat tumbuh, tetapi juga bagaimana pertumbuhan tersebut memberikan dampak lebih luas terhadap industri nasional.
Investasi pabrik menjadi salah satu jalannya.
Dengan produksi yang dilakukan di dalam negeri, aktivitas ekonomi tidak hanya berasal dari penjualan kendaraan. Produksi juga membuka kebutuhan terhadap tenaga kerja, komponen, material, logistik, jasa manufaktur, hingga berbagai pemasok pendukung.
Karena itu, pemerintah mendorong agar investasi kendaraan listrik semakin terhubung dengan industri domestik.
Salah satu instrumen yang digunakan adalah peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Pemerintah menargetkan TKDN kendaraan listrik minimal 40 persen hingga 2026, meningkat menjadi 60 persen pada 2027-2029, dan mencapai 80 persen mulai 2030.
Semakin tinggi TKDN, semakin besar pula peluang industri lokal mengambil bagian dalam pertumbuhan pasar kendaraan listrik.
Agus bahkan menyebut pemerintah tengah mengkaji kemungkinan mengaitkan pemberian insentif dengan pencapaian TKDN.
“Ada arahan dari Pak Luhut, agar kita coba pelajari untuk memberikan program insentif yang berbasis penguatan nilai TKDN,” kata Agus.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai menggeser fokus kebijakan dari sekadar membangun pasar menuju pendalaman industri.
Pasalnya, pasar kendaraan listrik yang besar belum otomatis membuat Indonesia memperoleh nilai tambah yang besar apabila kendaraan, komponen, dan teknologi utamanya masih bergantung pada impor.
Baca Juga: Mobil BBM Kian Tergerus, Mobil Listrik dan Hybrid Naik Pesat
Baca Juga: BYD dan Jaecoo Jadi Penguasa Mobil Listrik di Indonesia
Baca Juga: Pabrik BYD Mulai Produksi, Kemenperin Kejar TKDN hingga 80 Persen
Karena itu, pembangunan ekosistem menjadi pekerjaan lanjutan. Rantai industri yang ingin dikembangkan mencakup pengolahan bahan baku, produksi sel baterai dan battery pack, industri komponen, manufaktur kendaraan, hingga pengolahan dan daur ulang baterai.
BYD menjadi salah satu pemain yang diharapkan dapat memperkuat rantai tersebut.
Pada akhirnya, pertumbuhan pasar kendaraan listrik akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi Indonesia apabila diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi lokal, penguasaan teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan tumbuhnya industri komponen.
Dengan pasar yang semakin besar dan basis produksi yang mulai terbentuk, Indonesia kini memiliki kesempatan untuk naik kelas dari sekadar konsumen kendaraan listrik menjadi salah satu basis manufaktur kendaraan listrik di kawasan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan