Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp17.642 per USD
Kredit Foto: Antara/Reno Esnir
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat (4/9/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.642 atau menguat 37 poin dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.697 per USD.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan mata uang Garuda didorong sentimen positif dalam negeri. Pemerintah selama ini telah menggelontorkan anggaran besar untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Namun, kondisi berbeda dialami oleh kelompok masyarakat kelas menengah yang dinilai belum mendapatkan dukungan yang cukup.
Salah satu persoalan yang disorot pemerintah adalah penurunan pendapatan kelompok kelas menengah. Menurut Ibrahim, kelompok tersebut tidak mendapatkan subsidi yang diberikan kepada masyarakat tertentu sehingga pendapatan mereka mengalami penurunan.
"Oleh karena itu salah satu cara untuk mengangkat kembali kondisi kelas menengah adalah mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi," ujar Ibrahim.
Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini rata-rata masih berada di kisaran 5%. Kondisi tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mendorong industrialisasi sekaligus menciptakan lapangan kerja formal dalam jumlah besar.
"Oleh karena itu guna untuk penciptaan lapangan kerja formal semakin kuat, maka pertumbuhan ekonomi perlu didorong hingga di atas 6%-6,5%," katanya.
Menurut Ibrahim, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dapat mendorong masuknya kembali investasi asing ke Indonesia. Investasi tersebut diharapkan dapat digunakan untuk membangun infrastruktur sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Baca Juga: Rupiah Menguat 0,27% ke Rp17.631 Terdorong Sentimen Domestik
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.728, Berpotensi Berbalik Arah
Dengan demikian, pendapatan masyarakat kelas menengah diharapkan semakin meningkat. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat menciptakan kelompok kelas menengah baru dengan tingkat pendapatan yang lebih baik.
Namun demikian, para ekonom menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada 2027 tidak mudah dicapai di tengah tren suku bunga yang kembali meningkat.
Investasi akan menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan. Namun, kondisi suku bunga yang meningkat menjadi tantangan bagi pemerintah maupun pelaku usaha.
Tantangan tersebut juga diperberat oleh ketidakpastian geopolitik global yang belum tentu berakhir pada tahun depan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: