Asap Karhutla Indonesia Makin Parah, Malaysia Tutup 647 Sekolah di Sarawak
Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai memberikan dampak serius terhadap aktivitas masyarakat di Malaysia. Pemerintah Malaysia bahkan memutuskan menutup 647 sekolah di Sarawak setelah kualitas udara memburuk dan status darurat diberlakukan di wilayah Serian.
Penutupan sekolah tersebut dijadwalkan berlangsung mulai Senin (7/9/2026) hingga Jumat (11/9/2026). Kebijakan itu berlaku di 12 distrik Sarawak yang terdampak kabut asap, sehingga aktivitas belajar-mengajar tatap muka untuk sementara dihentikan.
Status darurat sendiri secara khusus diberlakukan di wilayah Serian, Sarawak. Keputusan tersebut diambil setelah indeks pencemaran udara di kawasan itu menembus angka 519, jauh melewati ambang 500 yang menjadi dasar diberlakukannya status darurat.
Kantor Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut deklarasi tersebut telah mendapat persetujuan Raja Malaysia, Sultan Ibrahim. Permohonan status darurat diajukan Komite Manajemen Bencana Sarawak setelah kondisi kabut asap dinilai semakin mengkhawatirkan.
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan oleh para siswa. Pemerintah Sarawak juga menghentikan sementara aktivitas kantor pemerintah dan swasta, perkebunan, proyek konstruksi, serta kegiatan penambangan yang tidak masuk kategori layanan esensial.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan kabut asap telah berkembang menjadi gangguan terhadap aktivitas masyarakat secara luas. Warga juga diminta membatasi kegiatan fisik di luar ruangan untuk mengurangi risiko paparan polusi.
Pemerintah Malaysia kemudian memperpanjang operasi penyemaian awan untuk memanfaatkan potensi terbentuknya awan hujan. Rekayasa cuaca itu diharapkan dapat menghasilkan hujan yang membantu membersihkan udara sekaligus mengurangi dampak kabut asap.
Kondisi di Sarawak menjadi perhatian karena kabut asap disebut berkaitan dengan kebakaran yang terjadi di wilayah Indonesia. Asap dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan terbawa hingga melintasi perbatasan dan memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Asia Tenggara.
Krisis tersebut juga tidak hanya terjadi di Malaysia. Singapura mulai menerbitkan panduan kualitas udara harian setelah pengukuran 24 jam memasuki kategori tidak sehat untuk pertama kalinya sejak 2023.
Baca Juga: Mitigasi Karhutla Diperkuat, Pemerintah Libatkan Masyarakat Adat
Filipina turut mengambil langkah untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk kualitas udara. Presiden Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan peliburan sekolah di Metro Manila dan sejumlah provinsi yang ikut terdampak kabut asap.
Di Malaysia sendiri, pemerintah menegaskan status darurat tidak berlaku untuk seluruh Sarawak. Kebijakan tersebut difokuskan pada wilayah Serian, sementara daerah lain mengambil langkah pencegahan sesuai tingkat paparan kabut asap masing-masing.
Besarnya jumlah sekolah yang ditutup memperlihatkan bagaimana karhutla yang terjadi ribuan kilometer dari pusat aktivitas masyarakat Malaysia dapat memberikan efek langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Dampaknya tidak lagi hanya berupa kualitas udara yang memburuk, tetapi sudah memaksa pemerintah menghentikan sementara kegiatan pendidikan dan sejumlah aktivitas ekonomi.
Dengan kondisi cuaca panas dan kering yang masih menjadi tantangan, pemerintah di kawasan Asia Tenggara kini menghadapi ancaman kabut asap lintas batas yang semakin serius. Penutupan ratusan sekolah di Sarawak menjadi salah satu gambaran paling nyata mengenai seberapa jauh dampak karhutla Indonesia telah menjalar ke negara tetangga.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama