PGE Bidik Bisnis Data Center, Panas Bumi Disiapkan Jadi Listrik Baseload
Kredit Foto: PGE
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyiapkan pasokan listrik baseload dari energi panas bumi untuk mendukung pertumbuhan green data center dan ekosistem kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan pusat data membutuhkan pasokan listrik yang stabil selama 24 jam sekaligus berasal dari sumber energi bersih. Karakteristik tersebut membuat panas bumi dinilai sesuai untuk menopang kebutuhan listrik pusat data dan AI factory.
“Pusat data membutuhkan listrik yang andal dan hijau sekaligus. Panas bumi adalah energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu, sehingga sangat cocok menjadi tulang punggung green data centerdi Indonesia,” ujar Ahmad Yani dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Indonesia memiliki 235,26 juta pengguna internet dan 185 fasilitas pusat data. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah hingga 2029/2030 seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital.
PGE telah memulai kajian pengembangan elektrifikasi green data center berbasis panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat. Proyek tersebut disiapkan sebagai pilot project sekaligus proof of concept untuk memvalidasi model bisnis, menjajaki kebutuhan calon pengguna, dan menyiapkan pasar.
Menurut Ahmad Yani, pengembangan pusat data berbasis energi panas bumi membutuhkan dukungan kebijakan, terutama dari sisi keekonomian dan kepastian proyek.
“Guna mendorong optimalisasi pengembangan data center berbasis EBT, khususnya panas bumi, terdapat beberapa langkah kunci yang perlu dukungan penuh. Pertama, menyempurnakan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan, dan predictable. Kedua, memperluas pemanfaatan insentif fiskal dan green financing. Ketiga, memperkuat sinkronisasi WKP, RUPTL, jaringan, PPA, dan target COD. Keempat, diperlukan penyesuaian strategi dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan data center sekaligus panas bumi nasional,” kata dia.
Inisiatif tersebut merupakan bagian dari strategi Beyond Electricity PGE. Selain memasok listrik untuk green data center, strategi ini mencakup pengembangan elektrifikasi green hydrogen, pemanfaatan langsung uap panas bumi, serta layanan teknologi dan laboratorium.
Baca Juga: Satu Dekade Lestarikan Elang Jawa, PGE Raih Penghargaan HKAN 2026 dari Kementerian Kehutanan
Baca Juga: Panas Sisa Jadi Setrum: PLN Indonesia Power dan PGE Teken LoI 45 MW
Dari sisi kapasitas, PGE menargetkan pertumbuhan bertahap menjadi sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034. Pengembangan tersebut akan ditopang portofolio sumber daya panas bumi sekitar 3 GW serta pipeline proyek yang telah disiapkan.
Pengembangan panas bumi PGE juga disebut sejalan dengan agenda swasembada energi pemerintah, termasuk alokasi 5,2 GW panas bumi dalam RUPTL. Pemerintah juga menargetkan Indonesia menjadi produsen panas bumi terbesar dunia pada 2030.
“Terlebih, tahun ini bertepatan dengan 100 tahun perjalanan panas bumi nasional. Ini momentum yang tidak datang dua kali, sehingga harus kita manfaatkan sebaik mungkin untuk mengakselerasi pengembangan kapasitas dan mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai produsen panas bumi terbesar dunia,” tambah Ahmad Yani.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: