Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Terlihat Mesra, Jokowi dan Prabowo Diam-diam Punya Kartu Politik untuk Bertarung di 2029

Terlihat Mesra, Jokowi dan Prabowo Diam-diam Punya Kartu Politik untuk Bertarung di 2029 Kredit Foto: Tangkapan layar Youtube TV Parlemen
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kedekatan Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto di ruang publik kerap memperlihatkan kesan hubungan politik yang tetap solid. Namun, di balik kekompakan tersebut, keduanya disebut menyimpan strategi masing-masing untuk menghadapi pertarungan politik menuju Pemilu 2029.

Pengamat politik Selamat Ginting menilai Jokowi maupun Prabowo sama-sama memiliki “kartu politik”. Menurutnya, kartu tersebut tidak harus dibuka sekarang karena perjalanan menuju 2029 masih panjang dan konstelasi politik masih sangat mungkin berubah.

“Prabowo punya rencana untuk 2029. Jokowi juga punya rencana 2029. Kartu itu tidak selalu harus dibuka sekarang,” kata Selamat dalam acara ROSI Kompas TV.

Baca Juga: Kenapa Perdana Menteri Timor Leste Temui Jokowi Bukan Prabowo? Ternyata Kedatangannya...

Selamat melihat sinyal mengenai strategi politik tersebut mulai bermunculan melalui sejumlah pernyataan Jokowi. Salah satunya ketika Jokowi berbicara mengenai kekuasaan yang dinilai mengandung pesan agar pemerintahan saat ini tidak menggunakan kewenangan untuk menjatuhkan pihak tertentu.

Pernyataan itu kemudian dikaitkan dengan posisi Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden. Terlebih, isu mengenai pemakzulan Gibran serta persoalan riwayat pendidikannya belakangan menjadi perbincangan publik.

Dalam situasi tersebut, Selamat menilai Jokowi tentu memiliki kepentingan politik untuk memastikan posisi keluarganya tetap aman. Ia juga melihat hubungan antara Jokowi dan Prabowo tidak bisa hanya dibaca dari apa yang terlihat di depan publik.

Baca Juga: Cuekin Saran Purbaya, Pramono: Bangun Jakarta Itu Perlu Duit Banyak

“Di dalam komunikasi politik, tentu tidak ada ruang hampa. Masing-masing punya kartu untuk nanti dikeluarkan," ujar dia.

Menurut Selamat, kartu politik menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo juga mulai terlihat dikeluarkan. Ia menilai salah satu contohnya adalah pesan Jokowi yang dianggap mengarah pada pentingnya Prabowo menjaga posisi Gibran sebagai Wakil Presiden.

Namun, Prabowo disebut tidak pernah memberikan respons terbuka apakah dirinya menyetujui atau menolak hal tersebut. Sikap itu dinilai menjadi salah satu kekhawatiran Jokowi, terutama ketika persoalan pendidikan Gibran kembali mencuat.

“Prabowo kemudian tidak pernah menanggapi setuju atau tidak setuju. Ini juga kekhawatiran Jokowi. Apalagi sekarang pendidikan Gibran dipersoalkan,” ungkap Ginting.

Persoalan pendidikan Gibran sendiri terutama berkaitan dengan pendidikan SMA/sederajat yang disebut pernah ditempuhnya. Isu tersebut kemudian berkembang menjadi polemik yang turut menyeret posisi politik Gibran sebagai Wakil Presiden.

Pakar hukum tata negara Denny Indrayana bahkan menggelar sayembara untuk menunjukkan ijazah Gibran. Hadiah dalam sayembara tersebut pun telah mencapai miliaran rupiah.

Dengan dinamika tersebut, Selamat melihat baik Jokowi maupun Prabowo memiliki kepentingan dan perhitungan politik menuju 2029. Meski saat ini keduanya terlihat kompak, bukan berarti seluruh kartu politik masing-masing sudah terbuka ke publik.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri