Marak Keracunan MBG, Menterinya Prabowo: Jangan Hanya Sibuk Cari Siapa yang Salah
Kredit Foto: Dokumentasi BGN
Kasus keracunan yang menimpa ratusan anak dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo kembali memunculkan pertanyaan besar soal keamanan makanan yang dikonsumsi anak-anak.
Di tengah desakan untuk mencari pihak yang bertanggung jawab, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi justru meminta agar perhatian tidak berhenti pada upaya saling menyalahkan.
Menurut Arifah, penanganan kasus tersebut harus diarahkan pada perbaikan menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Evaluasi, kata dia, perlu menyentuh seluruh rangkaian penyediaan makanan, mulai dari bahan baku, pengolahan, kebersihan, penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi sebelum makanan diterima dan dikonsumsi anak.
Baca Juga: Heboh Ucapan Gibran 'Bukan Saya yang Masak' di Tengah Keracunan MBG, Loyalis Jokowi Buka Suara
"Kita perlu melihat kejadian ini secara menyeluruh. Jangan sampai kita hanya sibuk mencari siapa yang salah, sementara celah dalam sistemnya tidak diperbaiki," ungkap Arifah dalam keterangannya, dikutip Minggu (6/9/2026).
Bagi Arifah, persoalan keracunan MBG tidak cukup diselesaikan dengan mengetahui sumber kesalahan. Celah yang memungkinkan masalah terjadi justru harus ditemukan dan diperbaiki sehingga sistem pelaksanaan MBG menjadi lebih aman bagi anak-anak.
Selain memastikan penyebab kejadian dievaluasi, Arifah juga menyoroti kondisi ratusan anak yang terdampak di Sidoarjo. Menurutnya, proses pemulihan tidak boleh hanya berfokus pada kondisi fisik setelah anak mendapatkan perawatan medis.
Baca Juga: Anies: Berapa Korban yang Harus Keracunan MBG sampai Kita Mau Tarik Rem Darurat?
Ada aspek psikologis yang juga perlu mendapat perhatian. Anak-anak yang mengalami kejadian tersebut harus dipastikan kembali merasa aman, terutama setelah melewati pengalaman yang dapat menimbulkan ketakutan.
"Trauma healing bukan sekadar pelengkap dalam proses pemulihan anak. Anak perlu diberikan ruang untuk bercerita, didengarkan, ditenangkan, dan diyakinkan bahwa mereka berada dalam kondisi aman," ujar Arifah.
"Jangan sampai anak trauma untuk makan, atau kembali ke sekolah, atau justru mendapatkan stigma, disalahkan, atau merasa takut untuk kembali beraktivitas," ucap dia.
Arifah kemudian mendorong evaluasi total terhadap standar operasional prosedur (SOP) pelaksanaan MBG. Menurutnya, tujuan utama evaluasi bukan sekadar menemukan titik kesalahan dalam kasus yang sudah terjadi, melainkan mengetahui bagian mana yang masih memiliki celah dan harus diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali menimpa anak-anak.
"Pengawasan juga perlu dilakukan secara berlapis melalui quality control dan quality assurance sebelum makanan sampai ke tangan anak," katanya.
Arifah menilai program MBG pada dasarnya memiliki tujuan yang sangat baik, yakni memastikan anak-anak Indonesia memperoleh asupan bergizi sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Karena itu, aspek keamanan makanan menjadi bagian yang tidak boleh dipisahkan dari tujuan tersebut.
"Kemen PPPA mendukung penuh upaya tersebut, tetapi makanan untuk anak harus memenuhi dua hal sekaligus, yaitu bergizi dan aman. Keduanya tidak dapat dipisahkan," tutup dia.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: