Mengapa Debu Vulkanik Sangat Ditakuti Pilot? Ini Bahayanya bagi Pesawat
Oleh: Satrio Arismunandar - Lulusan Fakultas Teknik UI
Kredit Foto: Istimewa
Erupsi gunung berapi seperti Anak Krakatau baru-baru ini selalu menyajikan pemandangan spektakuler sekaligus mencekam. Ketika kolom abu membumbung puluhan kilometer ke stratosfer, ancaman tak kasatmata mulai mengintai koridor penerbangan internasional.
Bagi pesawat penumpang modern yang terbang di ketinggian jelajah, debu vulkanik bukanlah jelaga kayu lembut yang tidak berbahaya, melainkan campuran pecahan kaca, kristal mineral, dan material batuan berukuran sangat kecil yang melayang di udara.
Dampak debu vulkanik terhadap mesin jet pesawat komersial dapat dipahami melalui proses mekanis yang berbahaya di dalam turbin.
Mesin jet bekerja dengan mengisap udara dalam jumlah besar, memampatkannya, lalu mencampurkannya dengan bahan bakar untuk dibakar di ruang bakar (combustion chamber). Suhu di dalam ruang bakar mesin jet modern dapat mencapai lebih dari 1.400°C.
Di sinilah masalah serius dapat bermula.
Debu vulkanik kaya akan kandungan silika yang memiliki titik leleh sekitar 1.100°C. Ketika abu terisap ke dalam mesin, partikel kaca halus dan mineral tersebut dapat meleleh karena suhu di dalam mesin jauh melebihi titik leleh silika.
Saat lelehan kaca itu terdorong menuju bagian turbin yang suhunya sedikit lebih rendah, material tersebut dapat membeku kembali dan menempel pada bilah-bilah turbin. Lapisan yang terbentuk dapat mengganggu aliran udara dan merusak karakteristik aerodinamika internal mesin.
Dalam kondisi tertentu, akumulasi material tersebut dapat menyebabkan flameout, yaitu padamnya pembakaran di dalam mesin sehingga mesin kehilangan daya dorong.
Selain merusak mesin, sifat debu vulkanik yang sangat abrasif juga sanggup mengikis kaca kokpit hingga menjadi buram (sandblasting effect) serta menyumbat tabung pitot yang berfungsi mengukur kecepatan pesawat.
Mengapa Mesin Tidak Dipasangi Filter?
Hingga saat ini, pesawat komersial tidak memiliki filter fisik khusus pada saluran masuk mesin untuk menyaring debu vulkanik.
Mesin turbofan membutuhkan pasokan udara dalam volume sangat besar setiap detiknya untuk menghasilkan gaya dorong. Pemasangan saringan halus pada saluran masuk mesin akan menghambat aliran udara, mengurangi efisiensi, dan berisiko tersumbat oleh material yang terisap.
Karena itu, mekanisme pertahanan utama pesawat bertumpu pada prosedur operasional dan teknologi deteksi dini.
Jika pesawat secara tidak sengaja menerobos awan abu, tindakan darurat pilot antara lain mengubah arah penerbangan untuk keluar dari awan abu dan segera menurunkan daya mesin ke posisi idle.
Menurunkan daya mesin akan mengurangi suhu di dalam mesin. Dengan suhu yang lebih rendah, material vulkanik yang terisap memiliki risiko lebih kecil untuk meleleh dan menempel pada komponen turbin.
Mengapa Abu Vulkanik Sulit Dideteksi?
Tingkat toleransi penerbangan terhadap debu vulkanik sangat rendah. Masalahnya, radar cuaca standar di dalam kokpit pesawat dirancang terutama untuk mendeteksi butiran air dan es. Karena awan debu vulkanik bersifat kering, radar tersebut tidak selalu mampu mendeteksinya secara langsung.
Karena tingginya risiko yang dapat ditimbulkan, otoritas penerbangan lebih mengandalkan pemantauan dan peringatan dini mengenai sebaran abu vulkanik.
Salah satu sumber informasi penting adalah Volcanic Ash Advisory Center (VAAC), yang memberikan informasi mengenai lokasi dan pergerakan awan abu vulkanik untuk mendukung pengambilan keputusan operasional penerbangan.
Karena itu, ketika ruang udara terpapar abu vulkanik, prinsip keselamatan penerbangan bukanlah mencoba menerobosnya, melainkan menghindarinya.
Bagi pilot, awan abu vulkanik bukan sekadar awan yang mengganggu jarak pandang. Di dalamnya terdapat material yang dapat masuk ke mesin, mengganggu instrumen, mengikis permukaan pesawat, dan dalam kondisi tertentu menyebabkan mesin kehilangan daya.
Ancaman terbesar justru terletak pada sifatnya yang nyaris tidak terlihat dari kokpit.
Itulah sebabnya debu vulkanik menjadi salah satu ancaman yang sangat serius bagi penerbangan di ketinggian jelajah.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: