- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Petinggi Bank Bumi Arta (BNBA) Hadapi Perkara Hukum dan Mundur, tapi Laba Tumbuh 46%: Ada Apa?
Kredit Foto: Ist
Sejumlah komisaris dan direksi PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) bergantian mengundurkan diri di tengah persoalan hukum yang melibatkan beberapa petinggi perseroan. Di tengah dinamika tersebut, BNBA justru membukukan pertumbuhan laba pada Semester I 2026, meski sejumlah indikator utama bisnis bank mengalami penurunan.
Dua komisaris BNBA, yakni Daniel Budi Dharma selaku Wakil Presiden Komisaris merangkap Komisaris Independen dan R.M. Sjariffudin atau Mohammad Sjariffudin selaku Komisaris merangkap Komisaris Independen, mengundurkan diri pada 15 April 2026. Keduanya menyatakan pengunduran diri dilakukan untuk fokus menyelesaikan persoalan hukum.
Selanjutnya, pada 17 Juni 2026, Wikan Aryono S. selaku Presiden Direktur juga mengundurkan diri dengan alasan ingin fokus pada persoalan yang memerlukan perhatian khusus.
Sepekan kemudian, pada 24 Juni 2026, perseroan menerima informasi mengenai kasus hukum yang melibatkan dua direksi BNBA, yakni Hendrik Atmaja dan Edwin Suryahusada.
Perkembangan kasus tersebut kemudian disampaikan BNBA melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada 31 Agustus 2026, manajemen menyatakan Edwin Suryahusada telah menjalani upaya paksa terkait kasus hukum yang dihadapinya.
Sehari berselang, pada 1 September 2026, BNBA kembali menyampaikan keterbukaan informasi mengenai perkara hukum yang masih melibatkan Wikan Aryono dan Hendrik Atmaja.
Meski menghadapi persoalan hukum dan perubahan susunan manajemen, kinerja laba BNBA justru menunjukkan pertumbuhan. Pada Semester I 2026, BNBA mencatat laba bersih Rp28,28 miliar, naik 46% dibandingkan Rp19,35 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, kenaikan laba tersebut terjadi ketika sejumlah indikator bisnis utama justru melemah.
Pendapatan bunga BNBA turun 11% dari Rp270,51 miliar menjadi Rp240,58 miliar pada Semester I 2026. Pendapatan bunga bersih juga menyusut dari Rp163,3 miliar menjadi Rp152,31 miliar.
Penurunan tersebut menunjukkan pertumbuhan laba bukan berasal dari peningkatan pendapatan bunga. Bahkan, penyaluran kredit dan penghimpunan dana nasabah juga mengalami kontraksi.
Kredit bersih BNBA turun dari Rp4,57 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp3,88 triliun pada Juni 2026. Dengan demikian, dalam enam bulan kredit bersih menyusut sekitar Rp689 miliar atau 15%.
Total aset perseroan turut menurun 9%, dari Rp8,55 triliun menjadi Rp7,75 triliun. Sementara simpanan nasabah turun dari Rp5,14 triliun menjadi Rp4,31 triliun atau berkurang Rp827 miliar dalam enam bulan.
Kas bersih dari aktivitas operasi juga turun cukup tajam, dari Rp677,22 miliar menjadi Rp180,23 miliar.
Di tengah penurunan kredit, BNBA justru meningkatkan penempatan pada portofolio efek. Nilai portofolio efek bersih melonjak dari Rp221,38 miliar menjadi Rp1,55 triliun, atau meningkat sekitar Rp1,33 triliun hanya dalam enam bulan.
Perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran yang cukup besar dalam komposisi penempatan aset BNBA.
Pembalikan Cadangan Dorong Laba
Salah satu faktor yang turut menjelaskan kenaikan laba BNBA terlihat dari pos pencadangan. Pada Semester I 2026, perseroan mencatat pembalikan cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp12,99 miliar.
Sebagai pembanding, pada periode yang sama tahun sebelumnya, pos tersebut masih menjadi beban sebesar Rp3,58 miliar. Artinya, terjadi perubahan sekitar Rp16,57 miliar yang memberikan dorongan terhadap laba bersih BNBA.
Dengan demikian, kenaikan laba BNBA tidak sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan bisnis inti. Di satu sisi, pendapatan bunga dan kredit mengalami penurunan, sementara di sisi lain terdapat pembalikan cadangan serta peningkatan tajam pada portofolio efek.
Manajemen BNBA merupakan salah satu bank yang bekerja sama dengan PT Taspen (Persero) dan Asabri dalam pengelolaan dana pensiun serta penyaluran kredit kepada pensiunan.
Baca Juga: BEI Soroti 3 Saham Ini, Ada yang Turun 15%
Baca Juga: BEI Minta Penjelasan soal Penggeledahan KPK, Ini Jawaban ADRO
Operasional Bank Tetap Berjalan
Terkait persoalan hukum yang melibatkan sejumlah anggota direksi, Corporate Secretary BNBA Lyvinia Sari menyatakan proses hukum masih berjalan dan belum terdapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Lyvinia juga memastikan operasional dan kegiatan usaha perseroan, termasuk layanan kepada nasabah, tetap berjalan sebagaimana mestinya.
"Sejauh ini belum terdapat dampak material yang mengganggu arus kas maupun kelangsungan usaha BNBA," jelas Lyvinia berdasarkan keterbukaan informasi kepada BEI.
Manajemen BNBA belum menjelaskan secara terbuka perkara yang dihadapi masing-masing direksi. Karena itu, keterkaitan antara perkara yang dihadapi para petinggi tersebut tidak dapat disimpulkan tanpa adanya informasi resmi lebih lanjut.
Kondisi BNBA pun menjadi menarik untuk dicermati: laba meningkat 46% di tengah penurunan kredit, simpanan nasabah, pendapatan bunga, dan aset, bersamaan dengan pergantian sejumlah petinggi serta proses hukum yang masih berjalan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: