Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bisnis Asuransi Kredit BUMN Dipangkas, Klaim Melonjak 32,7%

Bisnis Asuransi Kredit BUMN Dipangkas, Klaim Melonjak 32,7% Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Konsolidasi perusahaan asuransi badan usaha milik negara (BUMN) sesuai dengan arahan BPI Danantara mendorong pengurangan porsi bisnis asuransi kredit pada perusahaan asuransi umum pelat merah agar tidak bercampur dengan kegiatan usaha asuransi umum.

Wakil Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Bidang Statistik, Riset, dan Analisis Heri Supriyadi mengatakan perubahan portofolio tersebut terutama terjadi seiring rencana konsolidasi yang diarahkan menjadi tiga entitas, yakni asuransi jiwa, asuransi umum, dan penjaminan.

“Kalau itu asuransi umum jadi satu, bisnis yang namanya credit dan sebagainya diarahkan untuk dipindah ke penjaminan. Jadi memang lebih karena itu,” kata Heri dalam Konferensi Pers AAUI Triwulan II 2026, Jumat (4/9/2026).

Heri menilai, pengurangan bisnis asuransi kredit ini berkaitan dengan karakteristik risiko yang berbeda dari produk asuransi umum lainnya. Maka dari itu, perusahaan perlu menerapkan seleksi yang lebih ketat dalam mengambil portofolio.

“Terus dari sisi memang urusan risiko kredit itu ngeri-ngeri sedap. Jadi memang benar-benar sangat selektif untuk bisa masih ada dagingnya,” imbuhnya.

Adapun penurunan penurunan porsi bisnis asuransi kredit pada perusahaan asuransi umum pelat merah bukan semata-mata karena penurunan permintaan, melainkan karena perampingan struktur bisnis dalam proses konsolidasi.

“Jadi jangan nyampur-nyampur dengan produk finansial lain,” tutup dia.

Di tengah penataan itu, bisnis asuransi kredit secara industri masih tumbuh. AAUI mencatat premi asuransi kredit pada kuartal II-2026 mencapai sekitar Rp9,32 triliun, naik 9,3% dibandingkan periode sebelumnya sekitar Rp8,52 triliun dengan pertumbuhan klaim berlangsung lebih cepat yakni sebesar Rp9,28 triliun pada kuartal II-2026, melonjak 32,7% secara tahunan dari Rp6,99 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri