AAUI Bongkar Kejanggalan! Ekonomi Tumbuh Tapi Premi Asuransi Malah Jatuh
Kredit Foto: Azka Elfriza
Industri asuransi umum Indonesia menghadapi tekanan pada kuartal II-2026 meski ekonomi nasional tumbuh 5,29% secara tahunan. Premi yang dihimpun justru turun, sementara nilai klaim melonjak hampir 30%.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat premi asuransi umum mencapai Rp58,19 triliun pada kuartal II-2026, turun 0,5% dibandingkan Rp58,50 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, total klaim meningkat 29,2% menjadi Rp27,35 triliun dari Rp21,17 triliun. Kondisi tersebut dinilai menjadi anomali karena pertumbuhan ekonomi dan pembiayaan domestik masih menunjukkan kinerja positif.
Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset, dan Analisis AAUI Heri Supriyadi mengatakan pertumbuhan ekonomi semestinya dapat mendorong kebutuhan perlindungan risiko, terutama ketika penyaluran kredit dan pembiayaan terus berjalan.
“Kalau perbankan tumbuh, berarti ekonomi itu berjalan. Penyaluran kredit itu berjalan. Kalau kemudian industri meng-cover risiko untuk agunan saja, berarti kan positif,” ungkap Heri dalam konferensi pers AAUI Triwulan II Tahun 2026, Jumat (4/9/2026).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 5,29%. Namun, momentum tersebut belum tercermin pada premi asuransi umum, terutama pada lini properti yang menjadi penyumbang penurunan terbesar.
Premi asuransi properti tercatat turun 13,6% menjadi Rp15,50 triliun dari Rp17,95 triliun pada kuartal II-2025.
“Ini sedikit barangkali perlu digali lebih detail lagi. Pinjaman naik, pembiayaan ke masyarakat naik. Pasti kalau pembiayaannya untuk industri, tentu perkembangan industri naik. Kok malah properti preminya turun? Ini menarik,” paparnya.
Heri mengatakan terdapat sekitar dua hingga tiga perusahaan yang mengalami penurunan premi properti cukup signifikan. Namun, AAUI masih perlu menggali lebih lanjut faktor yang menyebabkan kontraksi pada lini tersebut.
Di sisi lain, tekanan industri semakin besar karena kenaikan klaim. Klaim pada lini properti melonjak 75,8% menjadi Rp5,78 triliun.
Baca Juga: Premi Asuransi Umum Anjlok, Klaim Malah Melonjak 29,2% Jadi Rp27,35 Triliun di Kuartal II 2026
Baca Juga: Hadapi Transformasi, Tata Kelola dan Manajemen Risiko jadi Fondasi Pertumbuhan Industri Reasuransi
Baca Juga: 97% Risiko Bencana RI Tak Diasuransikan, AAUI Minta Pemerintah Turun Tangan
Klaim asuransi kredit juga meningkat 32,7% secara tahunan menjadi Rp9,28 triliun dari Rp6,99 triliun. Kenaikan klaim kredit menjadi perhatian karena terjadi ketika tingkat non-performing loan (NPL) perbankan masih berada pada level relatif aman.
Heri menilai perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh karakteristik dan segmentasi risiko yang ditanggung perbankan dengan industri asuransi.
“Misalnya kalau perbankan itu barangkali yang paling banyak adalah pinjaman di atas Rp1 miliar atau Rp5 miliar ke atas. Sementara industri asuransi untuk asuransi kredit meng-cover yang di bawah Rp5 miliar. Itu yang saya tangkap,” ungkap Heri.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: