Pemimpin Hebat Bukan yang Paling Terlihat, tetapi yang Membuat Orang Berani
Oleh: Edhy Aruman
Kredit Foto: Ist
Ketika Bobby Matinpour bergabung dengan National Semiconductor, kondisi perusahaan sedang memburuk. Perusahaan teknologi itu baru saja melewati reorganisasi dan gelombang PHK besar.
Bobby datang sebagai manajer pemasaran baru di tengah tim yang terluka.
Orang-orang masih datang ke kantor setiap pagi. Namun, mereka tidak lagi datang dengan rasa aman. Mereka datang sambil bertanya, “Apakah besok giliran saya di-PHK?”
Yamin Durrani, seorang insinyur senior, merasakan ketegangan itu setiap hari. Ketakutan membuat orang mulai menjaga kepentingannya sendiri. Informasi ditahan, kerja sama melemah, dan persaingan internal semakin tajam.
Kantor tetap penuh orang, tetapi kepercayaan hampir tidak tersisa. Rekan kerja mulai saling curiga. Yamin bahkan merasa ngeri setiap kali harus berangkat kerja.
Di tengah suasana seperti itu, Bobby mulai memimpin.
Ia sebenarnya punya pilihan yang sangat umum: menekan tim lebih keras, menambah kontrol, lalu mengejar angka.
Cara itu terlihat cepat, tegas, dan sangat manajerial. Juga cukup efektif untuk membuat seorang atasan terlihat sibuk. Untungnya, Bobby tidak sedang audisi untuk menjadi bos paling menakutkan.
Ia melihat masalah yang lebih mendalam. Timnya bukan kekurangan perintah. Mereka kekurangan rasa aman dan kepercayaan diri.
Karena itu, Bobby tidak langsung mengubah banyak hal. Selama bulan pertama, ia justru bergerak lambat. Ia menemui anggota timnya satu per satu.
Ia bertanya tentang pekerjaan, kebutuhan, dan masa depan mereka. Ia ingin memahami apa yang membuat mereka takut sekaligus mengetahui apa yang masih mereka harapkan.
Lalu Bobby melakukan sesuatu yang tampak sederhana: mendengarkan tanpa terburu-buru memberikan jawaban.
Bagi tim yang lama tertekan, itu terasa berbeda.
Perlahan, orang mulai terbuka. Mereka bercerita tentang kecemasan, frustrasi, dan ambisi. Hubungan yang semula kaku mulai mencair.
Namun, Bobby tahu bahwa percakapan hangat saja tidak cukup. Kepercayaan membutuhkan bukti.
Maka, ia mulai membagikan sesuatu yang biasanya dijaga oleh seorang pemimpin:
Panggung.
Dalam rapat manajemen, pertanyaan sulit sering ditujukan kepadanya. Sebenarnya, Bobby sudah sering mengetahui jawabannya. Namun, ia tidak selalu mengambil kesempatan itu.
Ia justru mengalihkan pertanyaan kepada anggota tim.
“Yamin lebih ahli dalam hal ini. Biarkan dia menjawab.”
Kalimat itu singkat, tetapi pesannya besar. Bobby menunjukkan bahwa keahlian tidak harus berhenti padanya. Ia juga tidak harus selalu terlihat paling pintar.
Ini terdengar sederhana sampai ada direksi di ruangan. Pada titik itu, ego biasanya ikut meminta mikrofon.
Ujian yang lebih besar muncul pada konferensi penjualan tahunan. Ratusan karyawan dan eksekutif hadir. Itu adalah panggung yang sangat berharga bagi seorang manajer.
Kesempatan seperti itu biasanya sulit dilewatkan. Lampu menyala, pimpinan hadir, dan karier pun bisa ikut terangkat.
Namun, Bobby melakukan hal sebaliknya.
Ia menyerahkan presentasi utama kepada anggota tim paling junior. Bobby dan anggota tim lainnya berdiri di belakang. Mereka siap membantu ketika pertanyaan sulit muncul.
Sang junior mendapat panggung, tetapi tidak ditinggalkan sendirian. Ia diberi kepercayaan sekaligus perlindungan.
Di situlah kepemimpinan Bobby terasa berbeda.
Pemimpin yang kuat tidak selalu harus paling terlihat. Kadang kekuatannya justru muncul ketika orang lain mulai bersinar.
Semakin besar pemimpin, semakin kecil kebutuhannya untuk menjadi pusat perhatian.
Memberi Ruang untuk Bertindak
Menariknya, pola ini bukan sekadar cerita yang terdengar indah. Kouzes dan Posner menemukan prinsip serupa dalam riset kepemimpinan. Mereka menyebutnya Enable Others to Act.
Intinya sederhana: pemimpin tidak membesarkan dirinya dengan membuat orang lain bergantung kepadanya. Ia membesarkan orang lain melalui kepercayaan, kolaborasi, dan ruang untuk bertindak.
Logikanya mudah dipahami. Jika terus dikontrol, orang akan belajar menunggu perintah. Jika dipercaya, orang akan belajar mengambil tanggung jawab.
Karena itu, kredibilitas menjadi fondasi kepemimpinan. Orang bisa mematuhi jabatan karena aturan. Tetapi mereka mengikuti manusia karena percaya.
Riset Kouzes dan Posner menemukan pola yang konsisten. Orang mencari pemimpin yang jujur, kompeten, menginspirasi, dan berpandangan jauh. Namun, semuanya runtuh ketika tindakan berbeda dari perkataan.
Prinsipnya sederhana: Do What You Say You Will Do. Lakukan apa yang sudah Anda katakan.
Kredibilitas lebih membutuhkan konsistensi daripada slogan indah di dinding.
Bobby melakukan itu tanpa banyak slogan. Ia mendengarkan ketika orang membutuhkan ruang untuk berbicara. Ia memberikan panggung ketika orang membutuhkan kepercayaan.
Ia juga tidak meninggalkan mereka setelah memberikan tanggung jawab. Ia tetap berdiri di belakang.
Dengan begitu, pemberdayaan tidak berubah menjadi pengabaian.
Pendekatan itu kemudian menghasilkan perubahan nyata. Kolaborasi mulai pulih dan ide produk kembali bermunculan. Pendapatan unit tersebut dilaporkan meningkat sekitar 25%.
Namun, angka itu mungkin bukan yang paling penting.
Yamin merasa lebih dipercaya dan lebih diberdayakan daripada sebelumnya. Pengalaman itu mengubah cara pandangnya tentang kepemimpinan.
Ia belajar bahwa pemimpin hebat tidak sekadar menghasilkan pengikut. Mereka membantu pengikut tumbuh menjadi pemimpin.
Di situlah kepemimpinan mulai meninggalkan warisan.
Merdeka dari Pemimpin
Cara Bobby sebenarnya tidak rumit.
Ia mendengarkan sebelum mengarahkan. Ia percaya sebelum menuntut loyalitas. Ia membagikan informasi sebelum orang mulai menebak-nebak. Ia memberikan panggung ketika orang siap tumbuh. Ia tetap hadir ketika risiko mulai terasa.
Sebab delegasi bukan sekadar memindahkan pekerjaan. Delegasi berarti memberikan kepercayaan sekaligus tanggung jawab.
Kalau hanya pekerjaannya yang dipindahkan, itu namanya oper tugas.
Pada akhirnya, Bobby tidak sekadar memperbaiki kinerja tim. Ia memperbaiki cara orang memandang dirinya sendiri: dari takut berbuat salah menjadi berani mengambil peran.
Itulah perubahan yang sering luput dari laporan bulanan.
Angka hanya menunjukkan apa yang berhasil dicapai. Manusia menunjukkan apa yang berhasil diubah.
Suatu hari, semua pemimpin akan meninggalkan jabatannya. Nama di pintu akan diganti. Alamat email mungkin mati lebih cepat daripada kenangan.
Orang mungkin lupa presentasi terbaik yang pernah kita bawakan. Mereka mungkin lupa berapa target yang pernah kita pecahkan.
Tetapi mereka mengingat bagaimana rasanya bekerja bersama kita.
Apakah mereka menjadi lebih berani setelah dipimpin kita?
Apakah mereka semakin mampu mengambil keputusan sendiri?
Atau mereka justru semakin takut berbuat tanpa izin?
Bobby Matinpour memberikan gambaran sederhana tentang kepemimpinan. Kadang tugas pemimpin bukan memegang mikrofon lebih lama. Tugasnya adalah mengetahui kapan harus menyerahkannya.
Lalu ia berdiri beberapa langkah di belakang.
Bukan untuk menghilang, tetapi untuk memberi ruang.
Bukan untuk lepas tangan, tetapi untuk menguatkan.
Sebab warisan pemimpin bukan seberapa terang dirinya pernah bersinar. Warisannya adalah berapa banyak orang yang ikut menemukan cahayanya.
Dan di situlah pertanyaan terakhir menjadi sedikit mengganggu.
Ketika kita akhirnya meninggalkan ruangan itu, apa yang tersisa?
Orang-orang menjadi lebih besar karena pernah kita pimpin?
Atau mereka akhirnya bisa bernapas lega karena kita sudah pergi?
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: