Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

LFP Makin Dominan, IBC: Nikel Belum Tamat di Industri Baterai

LFP Makin Dominan, IBC: Nikel Belum Tamat di Industri Baterai Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dominasi baterai lithium iron phosphate (LFP) di pasar kendaraan listrik global belum membuat prospek nikel berakhir. Indonesia Battery Corporation (IBC) melihat baterai berbasis nikel masih memiliki ruang tumbuh, terutama melalui pengembangan teknologi nickel manganese cobalt (NMC) generasi baru dan solid-state battery.

Direktur Utama IBC, Aditya F Arif, mengatakan peta industri baterai ke depan masih sangat terbuka karena perkembangan teknologi berlangsung cepat. Karena itu, proyeksi masa depan baterai tidak cukup hanya melihat teknologi yang saat ini telah masuk pasar.

 “Kita belum bisa secara presisi memforecast bagaimana selanjutnya sebetulnya secara presisi karena itu masih berada di ranahnya teknologi,” ujar Aditya dalam acara Media MIND, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, IBC melakukan proyeksi dengan melihat dua sisi sekaligus, yakni perkembangan pasar dan perkembangan teknologi.

Dari sisi teknologi, IBC menilai LFP telah mendekati puncak maturitas pengembangannya. Sebaliknya, NMC masih memiliki ruang untuk meningkatkan performa.

“LFP, dengan adanya Blade 2.0 dari BYD, itu sebetulnya kami consider sudah mencapai peak atau puncak maturitas pengembangannya. Dan NMC masih terbuka ruang untuk pengembangan lebih lanjut,” katanya.

Aditya menyebut pengembangan NMC selanjutnya akan mengarah pada chemistry dengan kandungan nikel lebih tinggi, seperti NMC 811 dan NMC 955. 

Pengembangan tersebut ditujukan untuk meningkatkan tegangan, kemampuan rapid charging, dan power density.

 “Ke depan arah NMC itu akan khususnya akan ke arah high voltage yang kadar nikelnya lebih tinggi,” ujarnya.

Pengembangan juga diarahkan pada single-crystal NMC untuk meningkatkan stabilitas baterai.

Aditya menjelaskan NMC masih memiliki keunggulan dari sisi energy density. Dengan volume baterai yang sama, chemistry berbasis nikel dapat menyimpan energi lebih besar.

“Kita mengetahui bahwa NMC itu cocok untuk atau memiliki energy density yang sangat tinggi sehingga dengan volume yang sama dia bisa storage energy lebih banyak,” jelasnya.

LFP Unggul di Biaya

 Di sisi pasar, LFP memang tengah menjadi teknologi dominan. International Energy Agency (IEA) mencatat LFP menyumbang lebih dari 55% baterai kendaraan listrik yang digunakan secara global pada 2025, naik dari hampir 50% pada 2024.

Keunggulan LFP terutama berasal dari biaya. Harga battery pack LFP pada 2025 tercatat lebih dari 40% lebih murah per kWh dibandingkan NMC.

Namun, keunggulan biaya tersebut datang dengan konsekuensi energy density yang lebih rendah. IEA mencatat energy density battery pack LFP sekitar 20% lebih rendah berdasarkan massa dan sekitar sepertiga lebih rendah berdasarkan volume dibandingkan NMC.

Kondisi tersebut membuat persaingan LFP dan NMC tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga kebutuhan kendaraan dan perkembangan teknologi baterai berikutnya.

Solid-State Jadi Harapan Nikel

Peluang lain bagi nikel datang dari solid-state battery. Teknologi ini kini menjadi salah satu arena persaingan perusahaan baterai global.

IBC melihat chemistry berbasis nikel berpeluang digunakan dalam teknologi tersebut.

“Solid State battery ini higher chance untuk menggunakan chemistry berbasis nikel. Tidak hanya NMC, tapi yang jelas berbasis nikel,” beber Aditya.

Menurutnya, solid-state battery juga berpotensi menggunakan material Indonesia lainnya. Katodanya dapat menggunakan Nickel Manganese Oxide, sedangkan anodanya dapat menggunakan silikon.

“Artinya masih ada chance bahwa mineral-mineral Indonesia ini masih bisa mewarnai, sangat bisa mewarnai teknologi baterai masa depan,” tuturnya.

BESS Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

 IBC juga tidak hanya mengandalkan pertumbuhan kendaraan listrik. Aditya melihat Battery Energy Storage System (BESS) akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan terbesar industri baterai ke depan.

Perubahan tersebut terjadi seiring berkembangnya ekonomi digital dan kebutuhan data center.

 “Dengan adanya digital economy, ada permintaan baru yaitu dari data center. Data center memerlukan baterai, khususnya Battery Energy Storage System,” ungkapnya.

 IBC memperkirakan volume BESS pada 2035 dapat mencapai sekitar 30 kali lipat dibandingkan 2023. Pertumbuhan tersebut tidak hanya berasal dari kebutuhan data center, tetapi juga transisi energi dan integrasi pembangkit energi terbarukan.

Pabrik Karawang Mulai Beroperasi

Prospek tersebut datang ketika IBC mulai masuk ke tahap produksi baterai dalam negeri. Pabrik baterai IBC bersama CATL di Karawang telah beroperasi sejak Juli 2026 dengan kapasitas awal 6,9 GWh.

Pengoperasian dilakukan secara bertahap. IBC menargetkan fasilitas tersebut dapat beroperasi penuh pada Oktober 2026.

 “Operasinya memang bertahap. Jadi kita mulai dengan ... satu line dulu. Dan ini sambil menguji line-line sesudahnya,” papar Aditya.

IBC juga mengkaji ekspansi kapasitas hingga sedikitnya 15 GWh. Namun, keputusan investasi ekspansi tersebut baru ditargetkan pada 2027.

“Meskipun early work-nya sebetulnya segala persiapannya sudah mulai dari sekarang, tapi keputusan investasinya baru akan tahun depan,” sambungnya.

Nilai investasi battery materials IBC di Halmahera disebut mencapai sekitar US$600 juta. Sementara investasi fasilitas baterai diperkirakan sekitar US$1,2 miliar apabila ekspansi hingga 15 GWh terealisasi.

IBC juga menyiapkan pemasangan PLTS sebesar 18 MW peak di fasilitas Karawang pada 2027.

Bagi Indonesia, persaingan chemistry baterai tersebut menjadi penting karena industri baterai tidak hanya berkaitan dengan nikel. Aditya mengatakan berkembangnya industri baterai juga dapat menciptakan permintaan terhadap komoditas lain.

“Di dalam baterai setidaknya dibutuhkan 23%-nya itu aluminium dan sekitar 18%-nya adalah tembaga,” tutupnya.

Dengan perkembangan tersebut, IBC menilai industri baterai layak ditempatkan sebagai industri strategis dan prioritas Indonesia. Sementara bagi industri nikel, perkembangan NMC generasi baru dan solid-state menjadi peluang untuk mempertahankan peran nikel ketika LFP semakin dominan di pasar global.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra