Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Level Rp17.662 per USD

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Level Rp17.662 per USD Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot bergerak tipis di awal perdagangan hari ini Selasa (15/9/2026). Rupiah spot dibuka di level Rp17.662 per dolar AS atau menguat tipis 0,04% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.669 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan perdagangan hari ini rupiah bergerak fluktuatif. Namun ditutup melemah pada rentang Rp17.660 - Rp17.710 per dolar AS.

Ibrahim menuturkan, pergerakan rupiah dipicu oleh perekonomian global diperkirakan masih menghadapi berbagai tantangan pada 2026. Hal ini ditandai dengan tingginya harga energi, suku bunga global yang bertahan tinggi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. 

"Oleh karena itu, pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB)," kata Ibrahim kepada wartawan.

Menurut Ibrahim, menjaga defisit APBN 2026 di bawah 3% memang membutuhkan koreksi belanja yang cukup dalam. MBG menjadi salah satu program yang masih memiliki ruang untuk diefisienkan. 

"MBG justru termasuk program yang masih layak diperluas efisiensinya," kata dia.

Baca Juga: Pergantian Purbaya Jadi Menkeu Dinilai Bisa Tekan Rupiah dan Saham

Baca Juga: Awal Perdagangan, Rupiah Dibuka Menguat Rp17.605 per USD

Pagu awal MBG diketahu sekitar Rp330 triliun sejak awal terlihat cukup besar dibanding kesiapan tata kelola di lapangan. Penurunan anggaran MBG menjadi sekitar Rp262,5 triliun, kemudian Rp232,5 triliun (Rp30 triliun) untuk 72,46 juta penerima, bahkan apabila harus ditekan di bawah Rp200 triliun, masih dapat diterima. 

"Namun, efisiensi tersebut harus diarahkan pada komponen yang tidak produktif," katanya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: