Kredit Foto: Istimewa
Pegiat politik, sosial, dan ekonomi Arif Wicaksono menyindir sikap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait polemik dokumen pendidikannya, yaitu ijazah SMA/sederajat yang dianggap bermasalah.
Menurut Arif, Gibran memilih diam dan menghindar, serta menitipkan pembelaan kepada para pendukungnya yang vokal membantah isu tersebut.
"Gibran soal ijazahnya sendiri. Responsnya? Diam. Menghindar. Titip pembelaan ke pendukungnya. Kalau credibilitas pribadi saja tidak sanggup dibela, Jangan harap dia sanggup bela NKRI," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Selasa (15/9).
Sebelumnya, mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menantang Gibran untuk menghadapi gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK). Gugatan tersebut diajukan oleh pakar hukum tata negara Denny Indrayana bersama 12 pemohon lainnya pada 10 September 2026.
Permohonan itu terkait keabsahan syarat pendidikan Gibran (ijazah SMA/SLTA atau sederajat) dan resmi terdaftar sebagai perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2024.
Sebagai seorangĀ political scientist, Dino menegaskan rakyat memiliki hak mutlak untuk mengetahui kualifikasi pemimpinnya. Termasuk memastikan apakah ada konspirasi atau pelanggaran administratif terhadap persyaratan calon wakil presiden. Menurutnya, hal itu juga berarti pelecehan terhadap pemilu, pelanggaran hukum, dan penistaan terhadap demokrasi.
"Negara ini milik kita semua, dan kedaulatan berada di rakyat, bukan pihak manapun. Hukum dan peraturan yang berlaku bagi semua WNI juga berlaku bagi Gibran," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Minggu (13/9).
Dino menilai Gibran perlu memberikan klarifikasi atas tuduhan Denny Indrayana, apapun konsekuensinya. "Bahkan menurut saya, ini kesempatan bagi Gibran untuk membuktikan kualitasnya sebagai politisi/pemimpin, dan bagi rakyat untuk menilainya sendiri," imbuhnya.
Baca Juga: Respons Gibran Usai Purbaya Tiba-tiba Didepak Prabowo, Begini Pesannya
Namun hingga kini, Gibran belum memberikan respons. Berbeda dengan ayahnya, Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), yang setidaknya pernah menanggapi isu serupa. Dino menilai sikap Gibran terkesan menghindar dan bergantung pada pembelaan pihak lain yang sebenarnya tidak mengetahui secara pasti situasi terkait ijazah SMA-nya.
"Logikanya sederhana: Kalau Gibran tidak bisa dan tidak berani membela integritas dan kredibilitas dirinya sendiri, bagaimana dia akan bisa dan berani membela integritas NKRI jika diserang? We expect more from our leaders. Bagi yang sayang pada Gibran, silahkan, tapi anda sebaiknya lebih sayang pada Indonesia. Something to think about," pungkas Dino.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: