Kredit Foto: Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Sempat menguat saat pembukaan, indeks kemudian berbalik melemah dan bertahan di zona negatif hingga akhir perdagangan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 1,13% atau 73,54 poin ke level 6.461,15. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 6.520,21 hingga 6.549,60.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 312 saham menguat, 314 saham melemah, dan 165 saham tidak mengalami perubahan.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan nilai transaksi mencapai Rp12,68 triliun. Volume transaksi mencapai 26,4 miliar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1,76 juta kali.
IHSG Dibayangi Beragam Sentimen
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta memperkirakan IHSG masih memiliki peluang rebound pada perdagangan Selasa (15/9/2026), setelah mengalami koreksi pada sesi sebelumnya.
Menurut Nafan, pelaku pasar masih akan mencermati sejumlah faktor eksternal, mulai dari pergerakan harga minyak dunia, yield US Treasury, hingga arah dolar AS. Investor juga akan memperhatikan respons pasar terhadap kebijakan Menteri Keuangan baru, Suahasil Nazara.
Secara teknikal, Nafan menilai struktur IHSG masih berada dalam tren bullish meski indeks mengalami koreksi. Hal itu terlihat dari rebound yang terjadi setelah indeks menyelesaikan wave (iv) dan membentuk pola dragonfly doji.
“Secara teknikal, meskipun mengalami koreksi wajar, pergerakan IHSG sebenarnya masih membentuk struktur bullish setelah berhasil rebound dari wave (iv) dengan membentuk pola dragonfly doji candle,” ujar Nafan dalam riset hariannya, Selasa (15/9/2026).
Sejumlah indikator teknikal juga memberikan sinyal beragam. MA20 dan MA60 masih menunjukkan bullish crossover, sementara Stochastics K_D dan RSI memberikan sinyal negatif. Di sisi lain, peningkatan volume perdagangan mengindikasikan mulai munculnya aktivitas pembelian di pasar.
Untuk level teknikal, area support IHSG berada di 6.453 dan 6.353, sedangkan resistance berada pada 6.552 dan 6.695.
Pergerakan dana asing juga masih menjadi perhatian. Pada perdagangan Senin (14/9/2026), IHSG mencatat net foreign sell sebesar Rp330,69 miliar. Secara year to date (YTD), aksi jual bersih investor asing telah mencapai Rp98,43 triliun. Sepanjang 2026, IHSG masih mencatat penurunan sebesar 24,43%.
Dalam kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor untuk melakukan akumulasi secara selektif pada saham dengan fundamental kuat. Investor juga dapat mempertimbangkan saham bervaluasi murah serta emiten yang mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren. Namun, strategi tersebut tetap perlu disertai penerapan manajemen risiko secara disiplin.
Menurut Nafan, ada tiga faktor utama yang perlu diperhatikan investor saat ini, yakni perkembangan harga minyak dunia, arah yield US Treasury dan dolar AS, serta respons pemerintah dan Bank Indonesia terhadap kondisi ekonomi.
Jika ketegangan geopolitik mereda yang kemudian mendorong harga minyak turun dan membuat yield global lebih stabil, tekanan terhadap IHSG berpotensi berkurang. Kondisi tersebut akan semakin positif apabila fundamental ekonomi domestik mampu menjadi penyangga.
Baca Juga: IHSG Melemah 0,21% ke Level 6.520,91, Dibayangi Isu Menkeu hingga Konflik Timur Tengah
Baca Juga: BEI Buka Kembali Transaksi Short Selling Mulai Hari Ini
Baca Juga: BEI Tunda RUPSLB, Tunggu Aturan Demutualisasi OJK
Dari dalam negeri, respons awal pasar terhadap penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan cenderung positif. Namun, sentimen tersebut dinilai masih bersifat jangka pendek dan belum sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian di pasar.
Rebound IHSG setelah mengalami koreksi cukup dalam sebelumnya menunjukkan adanya indikasi bahwa pelaku pasar mulai melihat pergantian Menteri Keuangan sebagai langkah pemerintah untuk menjaga stabilitas dan memulihkan kepercayaan terhadap kebijakan fiskal.
Suahasil merupakan teknokrat yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan dan telah memiliki pengalaman panjang di Kementerian Keuangan. Karena itu, pasar akan menunggu kemampuannya dalam menjaga kredibilitas APBN, disiplin fiskal, stabilitas rupiah, serta konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah.
Nafan menilai respons positif pasar pada perdagangan sebelumnya dapat menjadi sinyal awal bahwa ketidakpastian mulai mereda. Namun, pasar tetap membutuhkan bukti konkret melalui implementasi kebijakan dalam beberapa waktu ke depan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan