Produksi Capai 54,6 Ton, JIEP Perkuat Pengelolaan Sampah dari Sumber di Kawasan Industri Pulogadung
Kredit Foto: Istimewa
PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (Perseroda) atau PT JIEP memperkuat pengelolaan sampah di Kawasan Industri Pulogadung dengan mendorong pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.
BUMD Provinsi DKI Jakarta sekaligus anggota Holding BUMN Danareksa itu menerapkan pengelolaan sampah melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), termasuk mengolah sampah organik menjadi kompos.
Direktur Utama PT JIEP Dharma Satriadi mengatakan, pengelolaan sampah dari sumber menjadi langkah penting untuk mengurangi sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.
“Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 memberikan arah yang jelas bahwa pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumbernya. Bagi JIEP, hal tersebut sejalan dengan peran kami sebagai pengelola kawasan industri. Karena itu, kami berupaya menerjemahkan semangat pilah dan olah sampah melalui pengelolaan di kawasan, edukasi, penyediaan sarana, serta kolaborasi bersama pemerintah dan masyarakat,” ujar Dharma.
Langkah tersebut menjadi bagian dari dukungan JIEP terhadap Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
Melalui kebijakan tersebut, pengelolaan sampah didorong agar tidak hanya berorientasi pada pengangkutan. Pemilahan dan pengolahan dilakukan sejak sampah berada di sumbernya.
Di Kawasan Industri Pulogadung, JIEP mendorong pemilahan sampah dan mengolah sampah organik menjadi kompos melalui TPS 3R. Kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan kembali untuk mendukung penghijauan kawasan dan kebutuhan pembibitan tanaman.
Berdasarkan data produksi sepanjang 2023 hingga 2026, pengolahan sampah dengan metode manual menghasilkan 50.572 kilogram atau sekitar 50,6 ton kompos. Sementara pengolahan menggunakan mesin menghasilkan tambahan 4.040,8 kilogram atau sekitar 4 ton.
Dengan demikian, total produksi kompos yang tercatat mencapai 54.612,8 kilogram atau sekitar 54,6 ton.
Selain pengelolaan di dalam kawasan, JIEP memperkuat kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan melalui kegiatan edukasi. JIEP berkolaborasi dengan Suku Dinas Lingkungan Hidup untuk memberikan pelatihan pengelolaan sampah kepada petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di berbagai wilayah Jakarta.
Dukungan juga diberikan kepada masyarakat di wilayah ring 1 kawasan melalui penyediaan tempat sampah terpilah dan gerobak sampah bagi sekolah maupun lingkungan RT/RW. Penyediaan sarana tersebut disertai edukasi mengenai pemilahan sampah dari sumber.
JIEP juga memberikan pelatihan kepada komunitas bank sampah serta melakukan edukasi pemilahan sampah secara internal kepada karyawan.
Di sisi lain, JIEP terus mendorong kolaborasi dengan pelaku usaha dan tenant di kawasan dalam pengelolaan sampah. Kolaborasi tersebut diarahkan agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada pengangkutan, tetapi mencakup pemilahan dan pengolahan sehingga volume sampah yang menjadi residu dapat ditekan.
Dharma mengatakan, upaya mengurangi sampah yang dikirim ke Bantargebang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Baca Juga: Jawab Kebutuhan Logistik Jakarta, JIEP Perluas Pergudangan Modern di Kawasan Industri Pulogadung
“Mengurangi sampah yang berakhir di Bantargebang tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pengelola kawasan, pelaku usaha, pekerja, pemerintah, sekolah, dan masyarakat agar pemilahan serta pengolahan sampah dapat berjalan secara konsisten sejak dari sumbernya,” tutur Dharma.
Menurutnya, pengelolaan sampah dari sumber tidak hanya berkaitan dengan kebersihan kawasan, tetapi juga pemanfaatan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna.
“Target akhirnya bukan hanya kawasan yang lebih bersih, tetapi bagaimana semakin banyak sampah yang dapat kita kelola dan manfaatkan kembali sebelum menjadi residu. Dengan kolaborasi yang konsisten, kami berharap kontribusi JIEP dapat membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di Bantargebang sekaligus mendukung terciptanya Kawasan Industri Pulogadung yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tutup Dharma.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: