Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pedes Bener! Anies Dikatain Elite Parpol Bocah Tua Alay: Doyan Jual Ayat dan Mayat!

        Pedes Bener! Anies Dikatain Elite Parpol Bocah Tua Alay: Doyan Jual Ayat dan Mayat! Kredit Foto: Twitter
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Elite Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Teddy Gusnaidi, menilai aksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang tengah membaca buku ‘How Democracies Die’ merupakan upaya dirinya untu menutupi bangkainya.

        Menurutnya, aksi tersebut sengaja diciptakan untuk menimbulkan pro kontra di masyarakat. Hal ini juga bertujuan untuk mengalihkan perhatian publik dari permasalahan yang dihadapi Anies saat ini. Baca Juga: Siasat Anies Tutupi Ketidakmampuan: Copot Walkot Jakpus

        “Anies ini kan bukan bocah tua alay ya karena dia tiba-tiba posting sesuatu yang seperti buku, makanan, dan segala macam,” ucapnya, dalam program acara Dua Sisi tvOne. Baca Juga: Dokter Memohon-Mohon ke Anies Baswedan Karena...

        “Artinya memang dia paham apapun yang dia lakukan itu menjadi perhatian. Maka dia mengeluarkan simbol ini. Simbol inilah yang memang dia sadar bahwa ini akan menjadi perdebatan, akan ada pro dan kontra,” sambungnya.

        Menurut dia, Anies dengan sengaja menciptakan pro dan kontra agar seolah-olah dia seperti orang alay.

        Langkah tersebut dilakukan Anies untuk mengalihkan perhatian publik dari permasalahan yang dihadapinya saat ini. 

        Seperti, ketika Anies mendapat tekanan publik atas aksi pembiaran kumpul-kumpul di acara Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab (HRS), baik di Tebet, maupun di Petamburan.

        “Tujuannya semua orang sudah tahu. Pertama, dia punya kemampuan untuk memindahkan permasalahan ketika tekanan begitu kuat terhadap dugaan pidana pelanggaran covid, ini yang dia maninkan,” ucapnya.

        “Tapi poin yang saya catat dia ingin menguburkan bangkai kerusakan demokrasi yang dia ada di dalam situ. Bangkai itu yang mau dia tutup bahwa dia seolah-olah dia bukan bagian dari orang-orang yang ikut menggerogoti demokrasi,” sambung Teddy.

        Ia juga mengungkit Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu. Dimana, Anies dipilih bukan karena berdasarkan kemampuannya, tetapi karena ada yang jualan ayat dan mayat.

        “Anies Baswedan itu bukan karena kemampuannya dia, tapi karena memang saat itu kita paham sama-sama bahwa bagaimana jualan ayat, jualan mayat. Itu fakta,” katanya.

        Teddy membagikan video perdebatannya dengan dBestari Barus di akun Twitter pribadinya, @TeddyGusnaidi, Minggu (29/11).

        “Anies gagal menutupi bangkai. Uniknya di Indonesia, bukan penguasa yang otoriter, tapi ‘oposisi’ yang otoriter. Point di buku yang dibaca Anies, semuanya menggambarkan sikap otoriter ‘oposisi’, bukan penguasa,” tandasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Vicky Fadil

        Bagikan Artikel: