Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengidentifikasi keandalan sistem kelistrikan sebagai variabel kritis yang mengganjal laju produksi migas nasional sepanjang 2025.
Masalah pada pembangkit listrik di blok-blok mature dilaporkan telah memicu defisit produksi (loss production) hingga puluhan ribu barel per hari.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, membeberkan bahwa frekuensi penghentian operasional tidak terencana (unplanned shutdown) pada infrastruktur kelistrikan masih menjadi "momok" bagi target lifting negara.
"Mesin-mesin pembangkit listrik yang untuk steam uap di Rokan juga untuk membangkitkan menggerakkan pompa-pompa angguk itu juga sangat membutuhkan listrik dan ini pembangkit listriknya juga beberapa kali shutdown, di September itu dua kali, di Desember dua kali juga. Nah ini banyak sekali produksi yang hilang sampai puluhan ribu barel oil per day," ungkap Djoko dalam bincang di salah satu TV Nasional, Selasa (30/12/2025).
Baca Juga: Tok! Kepala SKK Migas Umumkan Lifting Minyak 2025 Tembus Target APBN
Djoko menjelaskan, kerentanan sistem kelistrikan ini merupakan konsekuensi logis dari usia infrastruktur hulu migas Indonesia yang sudah beroperasi melampaui masa ekonomisnya. Hal ini diperparah dengan kondisi fasilitas produksi di sektor lepas pantai (offshore) yang kian korosif.
"Infrastruktur daripada hulu migas ini sudah sejak lama begitu ya, bahkan di Chevron itu sudah hampir 100 tahun, terutama yang dikelola oleh Pertamina yang di offshore ya pipa-pipa banyak berkarat, banyak bocor," tegasnya.
Tantangan teknis ini sempat menempatkan pencapain target lifting dalam posisi sulit di penghujung tahun. Djoko mencatat, selain kendala listrik di Blok Rokan, insiden pipa bocor di Lapangan Banyu Urip turut menyebabkan lifting nasional kehilangan potensi hingga ratusan ribu barel.
Meski dibayangi krisis infrastruktur dan gangguan cuaca di wilayah Sumatera, SKK Migas mengonfirmasi bahwa angka lifting minyak nasional akhirnya berhasil menyentuh level 605.000 barel per hari (bph) atau sesuai target APBN 2025.
Baca Juga: SKK Migas–Petrogas Mulai Injeksi Perdana Proyek CEOR Lapangan Walio
"Nah alhamdulillah, alhamdulillah 1-2 hari terakhir dengan berbagai upaya gejolak yang sangat luar biasa kita mencapai 605 alhamdulillah," ujar Djoko.
Guna menjaga stabilitas angka tersebut hingga tutup tahun pada 31 Desember, SKK Migas melakukan pemantauan ketat terhadap seluruh titik serah (delivery point) dan fasilitas terminal.
"Mudah-mudahan ya 3 hari lagi tidak ada unplanned shutdown, cuaca bagus, tidak ada pipa bocor dan sebagainya. Mudah-mudahan kalau itu semua lancar insyaallah bisa tercapai," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Djati Waluyo