Kredit Foto: SKK Migas
SKK Migas bersama Petrogas (Basin) Ltd. melaksanakan prosesi Proyek Pilot Walio Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR), metode peningkatan perolehan minyak melalui penyuntikan bahan kimia ke dalam reservoir untuk mendorong minyak tersisa agar dapat mengalir dan diproduksikan. Proyek ini dilaksanakan di Lapangan Walio, Wilayah Kerja (WK) Kepala Burung, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Proyek pilot CEOR Walio merupakan bagian dari pemenuhan Komitmen Kerja Pasti (KKP) Wilayah Kerja Kepala Burung. Prosesi tersebut dipimpin oleh Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, sekaligus menandai pelaksanaan injeksi perdana pada proyek tersebut.
Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, mengatakan injeksi perdana ini menjadi milestone penting dalam rencana pengembangan CEOR di Lapangan Walio.
Baca Juga: Kejar Lifting 2026, Rakor Dukbis SKK Migas Tekankan Reformasi Perizinan dan Efisiensi Rantai Suplai
Selain sebagai pemenuhan KKP, hasil positif dari pilot project ini diharapkan dapat memenuhi kriteria keberhasilan CEOR sehingga dapat dilanjutkan ke tahap pengembangan skala komersial.
Pengembangan CEOR Walio skala komersial, bersama pengembangan struktur baru hasil eksplorasi, diharapkan dapat menambah cadangan baru, meningkatkan produksi, serta memperpanjang usia produksi WK Kepala Burung. Dampak lanjutan dari pengembangan tersebut mencakup peningkatan profit bagi Petrogas sebagai operator, penerimaan negara, serta pergerakan industri dan jasa pendukung di sektor hulu migas.
“Proyek membuktikan bahwa lokasi remote dan jauh bukan menjadi hambatan karena dengan komitmen, dedikasi, dan kerja keras, semua persiapan proyek dapat dilaksanakan dengan baik,” kata Rikky, Selasa (30/12/2025).
SKK Migas juga berharap proyek ini dapat menjadi inspirasi bagi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) lain yang mengoperasikan lapangan potensial Enhanced Oil Recovery (EOR), khususnya di wilayah dengan infrastruktur hulu migas yang lebih established seperti Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Baca Juga: WP&B 2026 Digodok, SKK Migas Usulkan Target Minimal 100 Sumur Pengeboran Eksplorasi
President RH Petrogas Companies in Indonesia, Ferry Hakim, menyampaikan bahwa pilot project EOR ini merupakan salah satu pelaksanaan Komitmen Kerja Pasti Wilayah Kerja Kepala Burung serta upaya Petrogas (Basin) Ltd. dalam mengoptimalkan produksi minyak di Lapangan Walio.
“Kesuksesan proyek ini akan membuka peluang besar bagi Petrogas (Basin) Ltd. dalam mengembangkan penerapan CEOR di area yang lebih luas, memperkuat rencana jangka panjang untuk meningkatkan produksi minyak dan memaksimalkan oil recovery,” jelas Ferry.
Proyek CEOR Walio menerapkan pola injeksi lima titik yang terdiri atas satu sumur injeksi dan empat sumur produksi. Injeksi diarahkan ke zona reservoir Kais, reservoir karbonat yang telah memasuki tahap mature dan berproduksi selama lebih dari empat dekade, sekaligus menjadi reservoir utama penghasil minyak di WK Kepala Burung.
Baca Juga: Industri Hulu Migas Catat TKDN Rp388 Triliun Sepanjang 2020–2025
Pelaksanaan pilot project ini didukung oleh fasilitas permukaan khusus, meliputi unit injeksi surfaktan–polimer, sistem pengolahan air, serta jaringan flowline pendukung. Secara keseluruhan, implementasi pilot project diperkirakan berlangsung selama 30 hingga 35 bulan sejak dimulainya injeksi hingga penyelesaian evaluasi teknis akhir.
Lapangan Walio dikenal sebagai lapangan minyak terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia bagian timur. Lapangan ini berlokasi sekitar 3 kilometer dari fasilitas Kasim Marine Terminal dan menjadi salah satu area produksi utama dalam Wilayah Kerja Kepala Burung PSC.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Djati Waluyo
Editor: Djati Waluyo
Tag Terkait:
Advertisement