Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pipa Pecah Gegara Banjir Sumatera, Produksi Minyak RI Hilang 2.000 Barel Per Hari

        Pipa Pecah Gegara Banjir Sumatera, Produksi Minyak RI Hilang 2.000 Barel Per Hari Kredit Foto: WE are
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengakui bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatera telah memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas infrastruktur hulu migas nasional.

        Kerusakan pipa hingga gangguan pasokan listrik dilaporkan memicu kehilangan potensi produksi (loss production) yang cukup masif di penghujung tahun 2025.

        Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, memaparkan sejumlah fasilitas vital di Aceh dan Sumatera Utara mengalami kerusakan serius akibat bencana alam tersebut.

        Baca Juga: Gegara Listrik Padam, SKK Migas Sebut Ribuan Barel Minyak 'Hilang'

        "Bencana alam yang terjadi di Aceh sana Sumatera Utara di mana pipa gas kita pecah sehingga kondensat dan gas juga kita kehilangan produksi cukup banyak, 2.000 barel oil per day," ujar Djoko dalam sesi bincang bersama media, Selasa (30/12/2025).

        Di luar faktor alam, hambatan teknis akibat infrastruktur yang menua masih menjadi ganjalan utama dalam mengejar target lifting minyak APBN sebesar 605.000 barel per hari (bph).

        Djoko menyoroti stabilitas suplai listrik yang sering padam (shutdown) di blok-blok besar seperti Rokan, yang sangat bergantung pada energi listrik untuk menggerakkan pompa-pompa minyak.

        "Mesin-mesin pembangkit listrik yang untuk steam uap di Rokan juga untuk membangkitkan menggerakkan pompa-pompa angguk itu juga sangat membutuhkan listrik dan ini pembangkit listriknya juga beberapa kali shutdown, di September itu dua kali, di Desember dua kali juga," jelasnya.

        Baca Juga: Tok! Kepala SKK Migas Umumkan Lifting Minyak 2025 Tembus Target APBN

        Kondisi tersebut menyebabkan hilangnya produksi hingga puluhan ribu bph. Tekanan semakin berat ketika memasuki Desember, di mana terjadi insiden kebocoran pipa penyaluran dari Lapangan Banyu Urip menuju tanker, bersamaan dengan jadwal perawatan rutin lima tahunan.

        "Nah ini ratusan ribu barel kita hilang, ini suatu tantangan yang berat," tambah Djoko.

        Menghadapi berbagai hambatan tersebut, pemerintah melalui SKK Migas melakukan penyesuaian strategi dengan memasukkan produksi LPG ke dalam komponen lifting minyak. Langkah ini diambil berdasarkan definisi teknis molekul dan kontrak untuk memastikan target APBN tetap tercapai.

        Baca Juga: SKK Migas–Petrogas Mulai Injeksi Perdana Proyek CEOR Lapangan Walio

        "LPG ini cukup lumayan 22.000-23.000 barel oil per day nah itu kita masukkan ke dalam kelompok minyak karena LPG kan Liquid Petroleum Gas, dari segi definisi itu masuk dalam minyak. Nah itu kita masukkan ke dalam kelompok minyak sehingga kita bisa dapat mencapai 605.000 barel oil per day," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Djati Waluyo

        Bagikan Artikel: