Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi, Didorong Data Inflasi AS

        Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi, Didorong Data Inflasi AS Kredit Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga emas dunia mencetak rekor tertinggi pada Selasa (13/1). Kenaikan didorong oleh data inflasi yang memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed). Ia juga terdorong meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global yang mendorong permintaan aset lindung nilai.

        Dilansir dari Reuters, Rabu (14/1), harga emas spot tercatat stabil di US$4.591,49. Sementara emas berjangka ditutup turun tipis 0,3% ke US$4.599,10.

        Baca Juga: ETP Bitcoin dan Emas 21Shares Mulai Diperdagangkan di Bursa London

        Di pasar logam mulia lainnya, perak spot naik 2,1% ke US$86,74. Platinum relatif tidak berubah di US$2.343,35 per ons. Sedangkan paladium menguat 1,4% ke US$1.868,68.

        Investor menilai data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga dari The Fed. Indeks harga konsumen inti secara bulanan naik 0,2% di Desember. Adapun secara tahunan, ia naik 2,6%.

        Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan bahwa data ekonomi terbaru yang jinak memperkuat kemungkinan pemangkasan suku bunga di masa depan, yang cenderung menguntungkan aset non-yielding seperti emas.

        Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menegaskan dorongannya agar bank sentral memangkas suku bunga secara signifikan menyusul rilis data inflasi tersebut. Meski demikian, bank sentral diperkirakan akan menahan suku bunga pada pertemuan bulan ini, dengan pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini.

        Selain faktor kebijakan moneter, ketegangan geopolitik dan kekhawatiran atas independensi bank sentralterus menopang minat terhadap emas sebagai aset aman. Kekhawatiran meningkat setelah pemerintah membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

        Di sisi geopolitik, sentimen pasar juga tertekan oleh ancaman pengenaan tarif dua puluh lima persen terhadap negara-negara yang berdagang dengan Iran.

        Baca Juga: Peringatkan Trump, Rusia Tidak Akan Lepaskan Aset Minyaknya di Venezuela

        Adapun Rusia kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah kota di Ukraina.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: