Kredit Foto: Akbar Nugroho Gumay
Bursa Asia ditutup mixed pada perdagangan di Rabu (21/1). Tekanan terus berlanjut, memperpanjang penurunan sebelumnya di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait tuntutan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Dilansir Kamis (22/1), berikut ini adalah catatan pergerakan sejumlah indeks utama dari Bursa Asia. Bursa Jepang menjadi sorotan dalam perdagangan kali ini:
- Hang Seng (Hong Kong): Naik 0,37% ke 26.585,06
- CSI 300 (China): Naik 0,09% ke 4.723,07
- Shanghai Composite (China): Naik 0,09% ke 4.116,94
- Nikkei 225 (Jepang): Turun 0,41% ke 52.774,64
- Topix (Jepang): Turun 0,99% ke 3.589,70
- Kospi (Korea Selatan): Naik 0,49% ke 4.909,93
- Kosdaq (Korea Selatan): Turun 2,57% ke 951,29
Di Jepang, pasar lokal tertekan oleh aksi jual yang terus berlanjut pada obligasi pemerintah dari Jepang (JGB). Investor khawatir soal rencana belanja fiskal dan pemotongan pajak yang diusung oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.
Salah satu sorotan utama adalah rencana pemerintah untuk menangguhkan pajak penjualan sebesar 8% atas makanan dan minuman selama dua tahun. OCBC memperkirakan kebijakan tersebut dapat menggerus penerimaan negara hingga sekitar 0,75% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang.
“Jepang sedang menyangkal realitas. Jika Anda berpikir bisa berkampanye mengakhiri ‘penghematan berlebihan’ dengan utang 240% PDB. Pasar akan memberi pelajaran keras,” kata Eks Kepala Strategi Valas Goldman Sachs, Robin Brooks.
Takaichi sebelumnya mengumumkan pemilu cepat dengan agenda stimulus tambahan dan pemotongan pajak guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, ia belum memberikan penjelasan rinci mengenai sumber pendanaan kebijakan tersebut menyusul beban utang yang sudah menjadi yang terbesar di dunia maju.
Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 27 tahun. Hal itu mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek fiskal negara tersebut. Skala aksi jual yang besar bahkan mendorong otoritas mengimbau pasar agar tetap tenang.
Dari China, pasar saham relatif lebih stabil karena didukung ekspektasi stimulus tambahan dari Beijing. Hal ini menyusul data pendapatan domestik bruto kuartal keempat yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Saham-saham sektor kecerdasan buatan dan industri juga menguat seiring optimisme terhadap dorongan pemerintah untuk mencapai kemandirian penuh dalam bidang akal imitasi.
Di Asia, pasar secara luas tertekan akibat ketegangan global. Investor mencermati penampilan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di World Economic Forum di Davos, Swiss.
Baca Juga: Saham-Saham Ini Bisa Jadi Korban Keganasan MSCI
Sebelumnya, ia mengancam akan mengenakan tarif terhadap delapan negara blok euro hingga mereka menyerahkan Greenland ke Amerika Serikat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: