Kredit Foto: Azka Elfriza
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 berada di kisaran 4,9–5,7%, lebih tinggi dibandingkan perkiraan 2025 yang dipatok pada rentang 4,7–5,5%. Proyeksi tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, meningkatnya aktivitas sistem pembayaran, serta mulai menguatnya pertumbuhan kredit perbankan.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan, setelah menghadapi tekanan sepanjang 2025, perekonomian Indonesia dinilai mampu bertahan di kisaran 5% dan memasuki fase pemulihan yang lebih solid pada 2026.
“Sehingga kami melihat sebenarnya momentum pertumbuhan itu ada di 2026 setelah kita melalui 2025, kondisi yang cukup sulit dan kita masih tetap bisa bertahan hingga sekitar 5%,” ujar Destry di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Baca Juga: BI Proyeksikan Ekonomi Tumbuh hingga 5,7% di 2026
BI menilai, fondasi pertumbuhan ekonomi pada 2026 didorong oleh kekuatan ekonomi domestik. Aktivitas transaksi dalam sistem pembayaran menunjukkan perputaran uang yang tetap tinggi, mencerminkan terjaganya konsumsi dan kegiatan ekonomi masyarakat di tengah ketidakpastian global.
Selain konsumsi, pertumbuhan kredit perbankan juga mulai memberikan kontribusi positif. Destry mencatat, pada Desember 2025, kredit tumbuh di atas 9 persen secara tahunan, dengan porsi terbesar berasal dari kredit investasi.
“Kita juga mulai melihat kredit juga mulai tumbuh. Di Desember berdiri kita di atas 9% dan utamanya adalah kredit investasi,” kata Destry.
Baca Juga: Rupiah Lengket ke Rp17.000, BI Gencarkan Intervensi Pasar
Menurut BI, penguatan kredit investasi menjadi sinyal penting karena berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas produksi dan ekspansi usaha. Kredit jenis ini dinilai mampu memberikan efek berganda yang lebih besar dibandingkan kredit konsumsi.
BI juga melihat ruang pertumbuhan ekonomi ke depan masih terbuka lebar karena tingkat aktivitas ekonomi saat ini masih berada di bawah potensi. Dengan kondisi tersebut, akselerasi pertumbuhan pada 2026 diperkirakan tidak akan menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan.
Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan, BI memperkirakan inflasi pada 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen. Stabilitas inflasi ini didukung oleh koordinasi kebijakan moneter dan fiskal, serta pengendalian harga yang dinilai masih efektif.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: