Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pandu Sjahrir Ungkap Risiko Degradasi MSCI, Dana Rp837,75 Triliun Bisa Keluar dari Indonesia

        Pandu Sjahrir Ungkap Risiko Degradasi MSCI, Dana Rp837,75 Triliun Bisa Keluar dari Indonesia Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir memperingatkan bahwa potensi degradasi Indonesia dalam indeks MSCI berisiko memicu arus keluar dana asing (capital outflow) sebesar US$25 miliar hingga US$50 miliar atau sekitar Rp418,88 triliun hingga Rp837,75 triliun, yang dapat menekan likuiditas dan stabilitas pasar modal domestik.

        Pandu menyampaikan, risiko tersebut muncul seiring pembahasan peninjauan ulang klasifikasi Indonesia oleh MSCI. Menurutnya, isu tersebut telah berlangsung selama beberapa bulan dan pasar mulai merespons lebih awal melalui tekanan harga saham dalam dua hari terakhir.

        “Kalau enggak ada perubahan, pasti jatuh. Isu MSCI ini kan sebenarnya sudah 3 sampai 4 bulan isunya. Saya sendiri sudah bertemu dengan Direksi MSCI. Masukan-masukannya menurut saya sangat clear,” ujar Pandu, di Jakarta, Kamis (29/1/2025).

        Baca Juga: IHSG Melemah, CIO Danantara Ingatkan Investor Jangan Defensif

        Ia menjelaskan, salah satu konsekuensi terberat dari penurunan klasifikasi adalah potensi pergeseran Indonesia ke kategori Frontier Market, yang berdampak langsung pada alokasi dana investor global.

        “Saya lagi baca list Frontier Market, karena kan persiapannya ke Frontier Market sekarang. Ada negara seperti Bangladesh, Burkina Faso, Niger, Pakistan, Senegal, Togo, Tunisia,” katanya.

        Menurut Pandu, perubahan klasifikasi tersebut dapat memicu penyesuaian portofolio investor institusional secara signifikan, sehingga berisiko mendorong arus keluar dana dalam jumlah besar.

        “Kalau untuk perubahan dari market sekarang ke Frontier Market, kurang lebih hitungan izin, itu kurang lebih 25 to 50 Billion US Dollar outflow, Pak,” ujarnya.

        Di tengah kondisi tersebut, Pandu menegaskan Danantara tetap fokus berinvestasi, termasuk di pasar publik. Namun, ia menekankan pentingnya kedalaman dan kesehatan pasar modal sebagai prasyarat utama bagi keberlanjutan investasi jangka panjang.

        “Fokus kami berinvestasi. Tentu salah satunya di public market. Ya kami ingin capital market yang lebih dalam—ini sudah kami sampaikan secara eksplisit—kami ingin pasar modal yang lebih sehat dan lebih baik,” ucapnya.

        Pandu menilai, umpan balik dari MSCI terhadap pasar Indonesia telah disampaikan secara jelas kepada otoritas terkait. Oleh karena itu, tindak lanjut kebijakan sepenuhnya berada di tangan regulator.

        “Menurut saya feedback MSCI itu pas, tepat. Saya serahkan balik ke regulator,” katanya.

        Baca Juga: IHSG Crash, Danantara Pilih Masuk ke Saham Fundamental

        Terkait kerangka waktu peninjauan, Pandu menyebut MSCI telah menyampaikan bahwa evaluasi dapat dilakukan dalam waktu dekat, dan respons pasar sudah terlihat.

        “Kan sudah dibilang di bulan ini, nanti bisa di-review ulang. Market-nya bisa bereaksi, sudah bereaksi kok,” ujarnya.

        Ia juga menekankan pentingnya komunikasi regulator kepada para pemangku kepentingan untuk meredam ketidakpastian dan menjaga kepercayaan pasar.

        “You just have to be able to communicate. Salah satu hal yang mungkin baik adalah untuk regulator berkomunikasi kepada stakeholder lagi. Maybe that’s wise,” tutur Pandu.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: