Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Melemah, CIO Danantara Ingatkan Investor Jangan Defensif

IHSG Melemah, CIO Danantara Ingatkan Investor Jangan Defensif Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Koreksi tajam yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir disebut sebagai momentum penting bagi pasar saham domestik untuk melakukan evaluasi dan perbaikan.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menilai koreksi tersebut sebagai efek langsung dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang menunda sementara proses review dan rebalancing indeks saham Indonesia.

“(Ini seperti) wake up call (peringatan) dan kayak mandi air dingin. Kadang-kadang kita butuh juga (hal seperti ini) dan juga nggak usah kita menjadi defensif. Kita perbaiki saja diri kita karena market kita fundamentally very good (secara fundamental sangat baik),” ujar Pandu di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Menurut Pandu, meski IHSG turun signifikan, kondisi ini sebaiknya dilihat sebagai kesempatan untuk memperbaiki mekanisme pasar dan memperkuat koordinasi antara regulator dan pelaku pasar.

Pada Rabu pagi (28/1), IHSG tercatat melemah 597,75 poin atau 6,66 persen ke level 8.382,48, sedangkan indeks LQ45 turun 55,95 poin atau 6,39 persen ke posisi 820,16. Keesokan harinya, Kamis pagi (29/1), IHSG kembali dibuka melemah 357,76 poin atau 4,30 persen ke posisi 7.962,79.

Melihat penurunan yang signifikan ini, Pandu berharap semua pihak segera menuntaskan kesepakatan dengan MSCI terkait review saham Indonesia yang tertunda selama sekitar 3,5 hingga 4 bulan terakhir.

“Semoga dengan (masalah) ini, semua tergerak karena urusan MSCI ini udah 3,5 bulan kok, (atau sekitar) 4 bulan, sudah tahu semua (tentang hal ini), jadi perbaikilah,” ujarnya.

Pandu menekankan pentingnya komunikasi proaktif dengan MSCI terkait rencana regulator untuk meningkatkan batas free float, yakni jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik.

“It’s okay (Tidak apa-apa), karena kita tuh harus terus berkembang, kita harus seperti market (pasar) kayak di China, di Hong Kong, di India. Don't be defensive (jangan defensif),” tambah Pandu.

Menindaklanjuti hal ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menaikkan batas free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen, yang dijadwalkan berlaku mulai Februari 2026.

Baca Juga: IHSG Terpuruk, Airlangga Dorong Reformasi Pasar Modal

“SRO akan menerbitkan aturan untuk free float minimal 15 persen yang akan dilakukan dalam waktu dekat, dengan transparansi yang baik dan bagi emiten yang dalam jangka waktu tertentu,” jelas Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, saat konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Kamis.

Mahendra menambahkan, emiten yang gagal memenuhi ketentuan free float minimal akan dikenakan kebijakan keluar (exit policy) sebagai bagian dari upaya menjaga integritas dan likuiditas pasar modal Indonesia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement

Bagikan Artikel: