Stafsus Kemkomdigi: Izin Main di Dunia Maya Sama Pentingnya dengan Izin Keluar Rumah
Kredit Foto: Kemkomdigi
Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital Alfreno Kautsar Ramadhan, mengungkapkan adanya paradoks dalam pola asuh di era digital.
Ia menyoroti bahwa banyak orang tua yang sangat protektif di dunia nyata justru kurang berhati-hati saat anak-anak mereka beraktivitas di ruang digital. Padahal, menurutnya, tingkat kewaspadaan dan persiapan seharusnya setara.
Alfreno memberikan sebuah perbandingan untuk menggambarkan prinsip ini. "Ketika kita ingin melepas anak-anak di dunia digital, kita harus menunggu mereka siap dulu. Siap artinya mereka mengerti apa yang dilihat, dibaca, dan paham konsekuensinya," jelas Alfreno dalam acara Road to Tunas Community HUB Gembira Parenting di Tangerang Selatan, Kamis (29/01/2026).
Ia menambahkan bahwa untuk mendukung keamanan anak, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Tujuan regulasi ini adalah mengatur platform digital.
"PP TUNAS kerangkanya untuk menertibkan platform yang ada di dunia digital. Jadi bukan mensanksi orang tua. Sanksi untuk platform mulai dari teguran, denda administratif, hingga pemblokiran jika melanggar," jelasnya.
Perhatian serius juga diberikan pada konten online game yang memiliki risiko tinggi, terutama yang memungkinkan interaksi antar-pemain. Sebagai langkah preventif, pemerintah telah menerbitkan Indonesia Game Rating System (IGRS) sebagai pedoman klasifikasi.
Baca Juga: Kenapa Digital Detox Bisa Membuat Seseorang Lebih Bahagia?
Selain itu, ancaman dari teknologi seperti deepfake juga menjadi fokus. Alfreno mengingatkan tentang bahaya manipulasi wajah untuk konten negatif.
"Deepfake bisa membuat konten tidak lazim dengan wajah tokoh publik atau orang yang kita kenal. Jika konten seperti ini dilihat anak usia 9 atau 10 tahun, tentu sangat berbahaya," tambahnya.
Sebagai penutup, Alfreno menekankan pentingnya peran aktif orang tua dalam mendampingi anak. Interaksi dua arah di ruang digital jauh lebih disarankan. Dengan pendekatan tersebut, dunia digital diharapkan dapat menjadi lingkungan yang positif bagi anak-anak Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: