Berujung Jatuh, Order Book Menjadi 'Biang Kerok' Harga Bitcoin (BTC) Tak Reli Macam Emas
Kredit Foto: Istimewa
Pergerakan harga bitcoin sempat terlihat lesu pada awal bulan lalu, bahkan ketika aset tradisional seperti logam mulia dan saham mencetak rekor tertinggi baru. Kondisi tersebut kini dinilai sebagai sinyal awal dari aksi jual tajam yang kemudian menyeret harga bitcoin ke US$75.000.
Founder Material Indicators, Keith Alan menyebut bitcoin terus berulang kali gagal menembus level US$90.000. Kebuntuan tersebut belakangan terbukti menjadi pertanda pelemahan harga yang signifikan.
Baca Juga: Peringatan Jim Cramer, Harga Bitcoin (BTC) Tak Boleh Jatuh Lebih dari US$77.000!
Saat itu, pelaku pasar menuding berbagai faktor sebagai penyebab stagnasi harga, mulai dari peralihan investor ke aset aman, melemahnya permintaan kripto hingga penyesuaian posisi akhir bulan. Namun, ia menilai petunjuk utamanya sudah terlihat lebih awal melalui data order book dalam bursa kripto.
Alan mengatakan data order book menunjukkan tekanan jual yang konsisten di bawah level US$90.000. Tekanan tersebut terus menahan momentum kenaikan harga, meski kondisi pasar secara umum terlihat mendukung.
Menurut Alan, alat analisisnya telah memperlihatkan kemunculan berulang likuiditas jual dalam jumlah besar tepat di atas harga pasar. Kondisi itu secara efektif menahan harga bitcoin untuk reli.
Ia menyebut pola tersebut sebagai bentuk “liquidity herding”, di mana pelaku besar memengaruhi perilaku pasar dengan menempatkan order besar yang terlihat jelas. Strategi ini membuat pembeli ragu untuk masuk, sehingga harga bitcoin bergerak mendatar atau melemah.
Strategi tersebut tidak bergantung pada sentimen berita atau faktor fundamental, melainkan memanfaatkan struktur order book untuk memengaruhi psikologi pasar. Pola ini juga kerap muncul menjelang jatuh tempo kontrak opsi, ketika menjaga harga dalam rentang tertentu dapat menguntungkan trader besar.
Di sisi lain, data order book juga menunjukkan adanya akumulasi permintaan yang kuat di kisaran US$85.000 - US$87.500. Area tersebut sempat berfungsi sebagai level penopang jangka pendek selama fase konsolidasi bitcoin.
“Selama level dukungan itu bertahan, pasar melihatnya sebagai potensi pijakan untuk kenaikan berikutnya. Namun, jika level tersebut jebol, tekanan jual bisa meningkat dengan cepat,” kata Alan.
Peringatan tersebut akhirnya terbukti. Ketika harga bitcoin turun menembus batas bawah zona permintaan tersebut, aksi jual meningkat tajam.
Baca Juga: Investor Bitcoin (BTC) Mesti Waspada Pengangkatan Kevin Warsh, Ini Alasannya
Tipisnya likuiditas mempercepat penurunan harga, menandai kegagalan tegas dari rentang perdagangan yang sebelumnya menahan pergerakan bitcoin selama beberapa pekan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: