Melihat Kampung Sindikat Penipuan Scam di Kamboja, Ketika Kriminalitas Menjadi Industri
Kredit Foto: Reuters
Tensi politik Thailand-Kamboja masih memanas akibat konflik di perbatasan, bahkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat menyatakan diri mau turun tangan menangani masalah ini.
Nah, baru-baru ini Militer Thailand membuka 'borok' Kamboja dan menyebut ada 'kampung' berkumpulnya sindikat scam yang melakukan penipuan transnasional.
Militer Thailand kemudian menyita banyak bukti terkait sindikat ini dari sebuah kompleks penipuan Kamboja yang disita selama bentrokan di perbatasan pada akhir tahun lalu.
Laporan Bangkok Post menyebutkan pejabat senior militer Thailand sindikat kejahatan scam itu dinamakam kompleks O’Smach dan menampung ribuan orang, banyak di antaranya adalah korban perdagangan manusia yang dipaksa untuk menipu orang asing.
Para tentara kemudian menunjukkan kepada wartawan salah satu dari beberapa bangunan di kompleks tersebut yang dibom dan diduduki oleh militer Thailand akhir tahun lalu.
Bangunan enam lantai itu dipenuhi dengan dokumen, termasuk daftar panjang yang tampaknya berisi target potensial dan detail kontak mereka, serta naskah dialog penipuan.
O'Smach sebelumnya telah disebut sebagai basis operasi penipuan termasuk oleh Amerika Serikat, yang menyebutkan perdagangan manusia dan kejahatan kerja paksa.
"Alasan kami menunjukkan tempat ini hari ini adalah karena kami ingin dunia melihat bagaimana tempat ini digunakan sebagai basis kriminal melawan kemanusiaan,” kata Letnan Jenderal Teeranan Nandhakwang, direktur jenderal Direktorat Intelijen Angkatan Darat Kerajaan Thailand, kepada wartawan.
Sementara itu, Touch Sokhak, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Kamboja, mengatakan kepada Reuters bahwa Thailand telah menggunakan pusat-pusat penipuan sebagai dalih untuk serangan militer. Ia mengatakan Kamboja tegas menindak aksi kriminal scam tersebut dan berjanji untuk memberantas industri ilegal tersebut sebelum April.
Diketahui, Thailand dan Kamboja sempat terjadi konflik di perbatasan sengit selama beberapa minggu pada akhir Desember dan diakhiri gencatan senjata.
Selama bentrokan tersebut, militer Thailand menyerang beberapa kompleks kasino yang diduga sebagai tempat penipuan, dengan mengatakan bahwa kompleks tersebut juga digunakan untuk menyimpan senjata dan melancarkan serangan.
Militer Thailand juga menuduh ada pusat penipuan online dalam beberapa tahun terakhir yang disinyalir telah meraup miliaran dolar setiap tahunnya.
Di antara barang-barang yang disita di O’Smach adalah 871 kartu SIM yang memungkinkan komunikasi internasional anonim, puluhan ponsel pintar, lencana polisi palsu, dan seragam polisi, kata militer Thailand.
Wartawan yang mengunjungi kompleks tersebut juga melihat beberapa ruangan yang dirancang menyerupai kantor polisi dari berbagai negara, termasuk Brasil, Tiongkok, dan Australia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat