Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak mampu membalikkan posisi hingga akhir perdagangan Jumat (6/2/2026). Merujuk data RTI, IHSG ditutup anjlok 168,61 poin atau 2,08% ke 7.935,26 usai bergerak dari rentang level 7.761,68 ke 8.025,14 sepanjang perdagangan.
Pergerakan saham pada penutupan hari ini turut didominasi rapor merah. Sebanyak 646 saham melemah, 107 saham menguat dan 68 saham lainnya terpantau stagnan.
Hingga sore ini, IHSG mencatatkan volume transaksi 35,37 miliar lembar saham dengan frekuensi 2.246.096 kali. Adapun nilai transaksi yang dibukukan menyentuh Rp19,64 triliun dengan kapitalisasi pasar Rp14.369 triliun.
Baca Juga: Tepis Kabar Dirut Jadi Tersangka, Manajemen PADI Bilang Begini
PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) menjadi saham top losers dengan penurunan tajam 15% ke level Rp85. Disusul PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) yang ambrol 14,94% ke Rp131 dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) yang terperosok 14,93% ke Rp6.125.
Posisi top gainers diisi PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) yang terbang 34,78% ke Rp248, PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) yang melejit 24,82% ke Rp1.710 dan PT Lion Metal Works Tbk (LION) yang loncat 24,49% ke Rp605.
Saham terlaris hari ini adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan nilai transaksi Rp1,47 triliun. Diikuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp1,39 triliun dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp1,35 triliun.
Baca Juga: THR Cair, Empat Saham Ini Jadi Incaran Saat Ramadan dan Lebaran
Sebelumnya, Moody’s Ratings resmi mengubah outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat kredit Indonesia dipertahankan di level Baa2 (investment grade).
Dalam penilaiannya, Moody’s mencatat melemahnya koherensi proses pengambilan kebijakan dan efektivitas komunikasi pemerintah sepanjang setahun terakhir.
Hal ini tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan nilai tukar, serta penurunan skor Indonesia pada indikator global terkait efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi. Moody’s menilai pelemahan ini berpotensi mencerminkan penurunan kekuatan institusional dibandingkan dengan yang sebelumnya diasumsikan.
Lembaga pemeringkat tersebut juga menyoroti arah kebijakan fiskal yang semakin bertumpu pada belanja publik untuk mendorong pertumbuhan, di tengah basis penerimaan negara yang dinilai masih sangat lemah.
Menurut Moody’s, strategi ini meningkatkan risiko defisit fiskal yang lebih lebar apabila tidak disertai reformasi penerimaan yang kredibel dan berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: