Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekonom Prediksi Kredit Perbankan Tumbuh 10% pada 2026

        Ekonom Prediksi Kredit Perbankan Tumbuh 10% pada 2026 Kredit Foto: Azka Elfriza
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Chief Economist Permata BankJosua Pardede, memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 berada di kisaran 8% hingga 10%, seiring asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih moderat dan dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.

        Ia menyebut pendekatan konservatif diambil karena pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan berada di kisaran 5,1%–5,2%.

        “Pertumbuhan kredit kami melihatnya sih masih di kisaran 8% hingga 10% tahun ini ya. Jadi masih konservatifnya karena kami melihat bahwa asumsi pertumbuhan ekonominya pun juga cukup konservatif di 5,1%–5,2% tahun ini,” ujar Josua, dalam acara Membaca Masa Depan Properti Indonesia: Transisi Pasar dan Peluang 2026 di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

        Dari sisi eksternal, Josua menyoroti dampak lanjutan kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat yang pada tahun sebelumnya mendorong fenomena front loading ekspor oleh pelaku usaha Indonesia.

        “Dampak dari tarif Trump kan kalau tahun lalu kan belum terlalu kelihatan, karena banyak eksportir yang sudah front loading dulu dari semester satunya. Jadi di semester keduanya eksportirnya langsung jeblok tuh ke AS,” katanya.

        Menurut Josua, pada 2026 efek front loading tersebut tidak lagi terjadi. Kondisi ini berpotensi menekan kinerja ekspor Indonesia, yang pada akhirnya turut memengaruhi aktivitas ekonomi dan permintaan kredit perbankan.

        Di sisi domestik, ia menilai perbaikan daya beli dan konsumsi masyarakat berpeluang menjadi faktor penopang ekspansi kredit. Pemulihan konsumsi dinilai dapat mendorong permintaan pembiayaan, baik dari sektor rumah tangga maupun dunia usaha.

        Meski demikian, Josua menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas makroekonomi, terutama dalam menjaga kepercayaan investor jangka panjang.

        “Pertumbuhan ekonomi kencang bagus, tapi juga tetap jangan sampai melupakan stabilitas. Karena investor asing pun juga pada saat mereka menanamkan investasinya ke Indonesia, dia juga cukup concern bagaimana masalah stabilitas,” ujarnya.

        Ia menambahkan, investor cenderung menempatkan modal untuk jangka panjang sehingga stabilitas ekonomi dan kebijakan menjadi faktor krusial dalam keputusan investasi.

        Pada kesempatan yang sama, Josua mengingatkan perlunya refleksi dan perbaikan kebijakan di tengah dinamika global dan domestik yang terus berkembang. Ia menekankan pentingnya komunikasi kebijakan yang konsisten agar dapat dipahami dan direspons positif oleh pelaku pasar serta lembaga internasional.

        “Jadi bagaimana stabilitas itu harus dibuktikan oleh pemerintah,” tuturnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: