Menhan Geram Media Bertanya soal Tewasnya 6 Prajurit AS di Perang Iran, 'Jangan Bikin Presiden Terlihat Buruk'
Kredit Foto: Istimewa
Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth geram dan menuding media terlalu fokus memberitakan kematian tentara AS dalam konflik dengan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon pada Rabu (waktu setempat).
Ia berharap media seharusnya memaparkan capaian operasi militer AS dalam konflik di Timur Tengah, bukan malah menciptakan narasi yang membuat Presiden Donald Trump terlihat buruk di mata publik.
Ia menyayangkan bahwa insiden kematian tentara justru menjadi sorotan utama pemberitaan media. Komentar Hegseth muncul setelah enam personel militer AS tewas akibat serangan drone pada akhir pekan lalu di Kuwait.
"Kami telah menguasai wilayah udara dan perairan Iran tanpa perlu menurunkan pasukan darat. Kami mengendalikan arah konflik ini. Tetapi ketika terjadi peristiwa tragis malah jadi berita utama," kata Hegseth.
Ia juga menuding media lebih fokus pada pemberitaan yang dapat merugikan presiden. “Saya paham, media hanya ingin membuat presiden terlihat buruk. Tetapi sekali saja, cobalah melaporkan kenyataan yang sebenarnya,” ujarnya.
Sebelumnya, enam tentara Amerika Serikat tewas pada Minggu lalu diketahui bertugas di sebuah pusat operasi yang berada di kawasan pelabuhan sipil di Kuwait, beberapa kilometer dari pangkalan utama Angkatan Darat AS.
Dari enam korban tersebut, empat di antaranya merupakan anggota unit Cadangan Angkatan Darat AS dari negara bagian Iowa.
Pentagon mengidentifikasi mereka terdiri dari:
- Sersan Declan Coady (20) dari Des Moines, Iowa
- Sersan Satu Nicole Amor (39) dari White Bear Lake, Minnesota
- Kapten Cody Khork (35) dari Winter Haven, Florida
- Sersan Satu Noah Tietjens (42) dari Bellevue, Nebraska.
- Dua korban lainnya hingga kini belum diumumkan identitasnya kepada publik.
Presiden Donald Trump sebelumnya juga mengakui kemungkinan adanya korban tambahan dalam konflik yang sedang berlangsung.
"Sayangnya kemungkinan akan ada lebih banyak lagi sebelum ini berakhir. Begitulah kenyataannya," kata Trump pada Senin.
Dalam konferensi persnya, Hegseth juga menekankan bahwa Amerika Serikat saat ini mendominasi konflik yang telah berlangsung selama lima hari tersebut, meskipun Presiden Trump memutuskan terlibat tanpa persetujuan Kongres.
Meski demikian, ia mengakui bahwa beberapa serangan Iran masih mungkin mengenai target. “Ini tidak berarti kita bisa menghentikan semuanya, tetapi kami telah menyiapkan pertahanan maksimal dan perlindungan pasukan sebelum melancarkan operasi ofensif,” katanya.
Hegseth juga menepis kekhawatiran mengenai menipisnya stok amunisi militer AS. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat mampu melanjutkan perang selama yang diperlukan.
“Iran tidak akan mampu bertahan lebih lama dari kita. Kami akan memastikan melalui kekuatan ofensif dan defensif bahwa kami yang menentukan ritme dan tempo pertempuran ini," tambahnya.
Ia juga mengisyaratkan bahwa konflik bisa berlangsung lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan oleh pemerintah AS. “Orang bisa mengatakan empat minggu, tetapi bisa saja enam, delapan, bahkan tiga bulan,” ujarnya.
Komentar Hegseth turut disinggung dalam sebuah konferensi pers yang diangkat oleh Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt. Saat ditanya oleh koresponden utama Gedung Putih CNN, Kaitlan Collins, Leavitt awalnya menolak anggapan bahwa Hegseth sedang mengkritik media.
Namun setelah Collins membacakan pernyataan Hegseth secara langsung, Leavitt menegaskan bahwa media memang sering berupaya membuat presiden terlihat buruk. “Pers memang hanya ingin membuat presiden terlihat buruk. Itu fakta,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: