Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ditanya Apa Alasan Menyerang Iran? Trump: 'Ini Tugas Amerika untuk Melindungi Dunia'

Ditanya Apa Alasan Menyerang Iran? Trump: 'Ini Tugas Amerika untuk Melindungi Dunia' Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintahan Donald Trump kini tengah gencar melakukan upaya persuasi kepada publik Amerika Serikat untuk membenarkan peluncuran serangan militer ke Iran.

Di tengah meningkatnya kritik, Presiden Trump menyatakan bahwa tindakan keras tersebut merupakan langkah proaktif untuk mengakhiri ancaman yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump menegaskan bahwa Iran telah menjadi ancaman bagi warga AS dan dunia selama 47 tahun.

Ia berargumen bahwa serangan ini bukan merupakan awal dari "perang tanpa akhir" (endless war), melainkan sebuah langkah untuk mengakhiri ancaman jangka panjang dari Teheran.

"Jika kita tidak melakukannya lebih dulu, mereka akan melakukannya terhadap Israel dan kita," ujar Trump dalam pembelaannya.

Menteri dan bawahan Trump pun mengklaim adanya ancaman mendesak (imminent threat) terhadap pasukan AS di kawasan Timur Tengah, sehingga tindakan proaktif dianggap lebih baik daripada sekadar bereaksi setelah diserang.

Strategi komunikasi ini menjadi tantangan politik besar bagi Trump, mengingat salah satu janji kampanyenya adalah menghentikan keterlibatan AS dalam perang yang tidak berkesudahan di luar negeri.

Dilaporkan oleh CBS News, kini, tim komunikasinya mencoba mengubah narasi dengan menyebut konflik ini sebagai "tugas Amerika untuk melindungi dunia".

Meski demikian, jajak pendapat menunjukkan bahwa publik Amerika belum sepenuhnya yakin atas narasi tersebut.

"Banyak warga yang masih mempertanyakan berapa lama konflik ini akan berlangsung dan apakah ini akan menjadi beban baru bagi militer Amerika Serikat, terutama menjelang pemilihan umum sela (midterms)," tulis laporan tersebut.

Selain strategi militer, ketegangan juga terjadi antara pihak Gedung Putih dengan media massa terkait cara pelaporan korban perang.

Sekretaris Pertahanan, Pete Hegseth, sempat mengkritik media yang dianggap terlalu fokus pada jumlah korban jiwa prajurit Amerika demi menyudutkan presiden.

Pihak pemerintah meminta media untuk lebih menyoroti "keberhasilan operasi" daripada terus memajang foto para prajurit yang gugur di halaman depan.

Namun, pihak pers menegaskan bahwa melaporkan identitas enam tentara AS yang sejauh ini telah gugur adalah bentuk penghormatan dan humanisasi, bukan sekadar menjadikan mereka angka statistik.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: