Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rantai Pasok Tekstil hingga Mamin RI Terancam Konflik Iran–AS, Kemenperin Lakukan Ini

Rantai Pasok Tekstil hingga Mamin RI Terancam Konflik Iran–AS, Kemenperin Lakukan Ini Kredit Foto: Kemenperin
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa rantai pasok bahan baku industri terganggu akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat (AS).

Sejumlah sektor industri dalam negeri yang tergantung pada bahan baku impor diperkirakan terdampak, antara lain industri tekstil, logam, kimia, petrokimia, hingga makanan dan minuman (mamin).

Kawasan Timur Tengah, selain menjadi pusat energi dunia, juga merupakan jalur logistik global yang vital. Setiap ketegangan di kawasan tersebut tidak hanya memengaruhi harga energi, tetapi juga menghambat kelancaran rantai pasok bahan baku industri serta meningkatkan biaya logistik yang harus ditanggung sektor manufaktur nasional.

Ketidakpastian geopolitik berpotensi menambah biaya pengadaan bahan baku sekaligus memperpanjang waktu pengiriman akibat perubahan jalur logistik global.

Menperin menambahkan, gangguan pada jalur perdagangan internasional juga dapat memengaruhi kinerja ekspor industri manufaktur. Konflik geopolitik biasanya memicu volatilitas pasar global, sehingga permintaan dari negara tujuan ekspor dapat mengalami fluktuasi.

“Perkembangan situasi geopolitik global tentu perlu kita antisipasi bersama. Kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia selama ini sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi global dan permintaan pasar internasional,” ungkap Agus, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Jumat (6/3).

Baca Juga: Indonesia Wajib Antisipasi Skenario Terburuk Perang AS–Iran, Ini yang Perlu Diperhatikan

Meski demikian, Menperin menegaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus melakukan langkah-langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan sektor industri nasional. Salah satu strategi yang dilakukan adalah memperkuat struktur industri hulu, meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta memperluas diversifikasi pasar ekspor.

“Penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri menjadi sangat penting agar industri manufaktur Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan terhadap gejolak geopolitik,” jelasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya