Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mantan Jenderal Bintang Empat AS ini Jelaskan Pola Pembagian Tugas AS-Israel Runtuhkan Fasilitas Penting Milik Iran

Mantan Jenderal Bintang Empat AS ini Jelaskan Pola Pembagian Tugas AS-Israel Runtuhkan Fasilitas Penting Milik Iran Kredit Foto: Reuters/Amir Cohen
Warta Ekonomi, Jakarta -

Analis strategis militer dan pertahanan dari Fox News, Jack Keane menyatakan bahwa konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran telah memasuki fase baru operasi militer yang lebih intens.

Menurutnya, peluang untuk kembali ke meja perundingan diplomatik kini hampir mustahil, kecuali jika Iran memilih untuk menyerah tanpa syarat.

Jack yang juga merupakan pensiunan jenderal bintang empat militer AS menilai operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel saat ini menunjukkan tingkat koordinasi dan kepercayaan yang sangat tinggi.

Operasi tersebut telah memasuki fase peningkatan daya gempur, dengan fokus pada penghancuran target strategis milik Iran.

Dalam tahap ini, militer Amerika Serikat mengerahkan pengebom berat yang dilengkapi bom berpemandu presisi berbasis GPS untuk menghantam berbagai fasilitas penting, termasuk infrastruktur nuklir, pusat komando militer, serta sistem pertahanan udara Iran.

Sementara itu, Israel menjalankan operasi yang lebih terfokus pada pelemahan struktur kekuasaan internal Iran. Target yang disasar antara lain organisasi-organisasi yang menjadi penopang utama rezim, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan para militer/milisi Basij.

Menurut Keane, tujuan utama dari strategi tersebut adalah menciptakan kondisi yang dapat melemahkan bahkan meruntuhkan rezim yang berkuasa di Iran.

"Iran berupaya memanfaatkan dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat untuk memperpanjang konflik," kata Keane.

Teheran disebut berharap tekanan politik internasional maupun domestik dapat mendorong pemerintah AS untuk menghentikan operasi militer atau menyetujui gencatan senjata lebih awal.

Namun, Keane menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump disebut memiliki tekad untuk menyelesaikan konflik ini secara tuntas, agar tidak menjadi beban bagi pemerintahan AS di masa mendatang.

Menurutnya, Iran sebenarnya ingin membuka jalur negosiasi hanya untuk mempertahankan kelangsungan rezim mereka, tetapi hal itu tidak akan dilayani oleh Washington.

Di tengah eskalasi konflik, Iran juga dinilai berupaya memperluas pengaruhnya di negara-negara Teluk guna menciptakan tekanan regional terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Sementara itu, kelompok Hizbullah di Lebanon sejauh ini dinilai masih menahan diri untuk tidak melancarkan serangan rudal besar-besaran ke kota-kota Israel.

Sikap tersebut dianggap sebagai perkembangan yang relatif positif bagi stabilitas kawasan untuk sementara waktu.

Keane memperkirakan operasi militer AS yang sedang berlangsung dapat membutuhkan waktu sekitar 10 hari hingga dua minggu.

"Butuh waktu setidaknya 2 minggu untuk menghasilkan dampak signifikan dalam melemahkan kontrol rezim Iran terhadap negara dan rakyatnya," tutupnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: