Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Terus Melemah, Saham HILL Masuk Pengawasan Bursa

        Harga Terus Melemah, Saham HILL Masuk Pengawasan Bursa Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Hillcon Tbk (HILL) masuk radar pengawasan Bursa setelah sahamnya menunjukkan pergerakan yang dinilai tidak wajar. Dalam sepekan terakhir, saham ini sudah anjlok -37,61%, bahkan merosot -60,69% dalam periode sebulan.

        "Dalam rangka perlindungan investor, dengan ini kami menginformasikan adanya penurunan harga pada saham PT Hillcon Tbk (HILL) yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity)," kata Kepala Divisi Pengawasan Transaksi Bursa Efek Indonesia, Yulianto Aji Sadono.

        Setelah pengumuman UMA dirilis, tekanan belum mereda. Pada sesi pertama perdagangan Rabu (18/2), saham HILL kembali menembus auto rejection bawah (ARB) dengan koreksi -15% ke level Rp68.

        Baca Juga: Pengelola Ancol (PJAA) Kantongi Laba Bersih Rp180,19 Miliar pada 2025

        Yulianto menegaskan, pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal. Meski demikian, pergerakan saham tersebut kini tengah menjadi perhatian.

        "Sehubungan dengan terjadinya Unusual Market Activity atas saham HILL tersebut, perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini," ujar Yulianto.

        Ia mengimbau investor untuk lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan investasi. Investor diminta untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat atas permintaan konfirmasi bursa serta mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya. 

        Baca Juga: Multi Garam (FOLK) Berencana Caplok 99,96% Saham Traya Multi Investama

        "Mengkaji kembali rencana corporate action perusahaan tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi," pungkas Yulianto. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: