Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Disebut Lakukan Uji Coba Senjata Nuklir, Rusia-China Kompak Jawab Tuduhan AS

        Disebut Lakukan Uji Coba Senjata Nuklir, Rusia-China Kompak Jawab Tuduhan AS Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rusia dan China kompak membantah tuduhan sudah melakukan uji coba pengembangan senjata nuklir secara diam-diam, sesuai dengan klaim yang dilontarkan oleh Amerika Serikat (AS).

        Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan mengatakan bahwa kedua negara tidak pernah melakukan uji coba senjata nuklir seperti yang disebut oleh AS.

        Baca Juga: Amerika Serikat (AS) Sentil Ukraina, Ungkit Biaya Perang Lawan Rusia

        “Kami mendengar banyak pernyataan terkait dugaan uji coba tertentu. Rusia dan China disebut-sebut dalam konteks ini. Namun kami tidak melakukan uji coba nuklir apa pun,” ujar Peskov, dikutip dari Reuters.

        Tuduhan pengembangan senjata nuklir sendiri menjadi sorotan dunia menyusul berakhirnya perjanjian pengendalian pengembangan senjata nuklir dari Rusia dan AS.

        Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru tak memperpanjang kesepakatan dari New Start. Salah satu dugaan kuat mengapa sang presiden menolak memperpanjang kesepakatan itu adalah ketidakikutsertaan dari China.

        Terbaru, Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Christopher Yeaw mengatakan sebuah stasiun seismik mendeteksi peristiwa yang diduga sebagai ledakan berkekuatan magnitudo 2,75 di 22 Juni 2020. Ledakan tersebut berlokasi sekitar 720 kilometer dari lokasi uji coba Lop Nor di China.

        Baca Juga: PBB Soroti Amerika Serikat (AS), Kasus Jeffrey Epstein Bisa Jadi Kejahatan Kemanusiaan

        “Saya telah menelaah data tambahan sejak saat itu. Sangat kecil kemungkinannya ini adalah sesuatu selain sebuah ledakan tunggal,” ujar Yeaw.

        Ia menegaskan data tersebut tidak konsisten dengan aktivitas pertambangan maupun gempa bumi. Menurutnya, karakteristik seismik peristiwa tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan dari uji coba bahan peledak nuklir.

        Baca Juga: Timur Tengah Berguncang, Ada Ambisi Israel di Balik Larangan Kepemilikan Senjata Nuklir Iran

        China menurutnya juga kemungkinan menggunakan metode decoupling, yakni meledakkan perangkat dalam dalam rongga bawah tanah besar untuk mengurangi gelombang kejut yang terdeteksi oleh sensor seismik.

        Baca Juga: Diam-diam Kirim Utusan, China Akhirnya Tegaskan Posisinya Dalam Perang Rusia-Ukraina

        Beijing sendiri telah menyangkal tuduhan melakukan pengembangkan nuklir secara diam-diam. Pihaknya menegaskan uji coba nuklir bawah tanah terakhir yang dilakukannya terjadi pada 1996. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: