Bos BRI Bongkar Penyebab Penyebab Kredit Industri Perbankan Melambat di 2025
Kredit Foto: Istimewa
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, memaparkan penyebab pertumbuhan kredit industri perbankan sepanjang 2025 yang masih berada di level single digit atau 9,98% secara year on year. Kondisi tersebut diakui menjadi tantangan bagi industri perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasi secara optimal.
“Pertumbuhan kredit secara year on year pada posisi Desember 2025 masih berada di angka single digit, meskipun telah meningkat pada Juni 2025. Hal ini menjadi tantangan besar bagi industri perbankan,” kata Hery dalam webinar Economic Outlook 2026, Kamis (19/2/2026).
Menurut Hery, perlambatan kredit saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor permintaan (demand) dibandingkan dengan ketersediaan likuiditas (supply).
Berdasarkan data survei Bank Indonesia, penurunan permintaan kredit baru terjadi di sebagian besar segmen. Kredit konsumsi tercatat turun signifikan dari 62,9% menjadi 13,4%, sementara kredit UMKM melambat dari 78,4% menjadi 58,8%.
Baca Juga: Group CEO BRI Apresiasi Kinerja PNM dalam Menciptakan Dampak Sosial dan Ekonomi
Di sisi lain, rata-rata undisbursed loan justru meningkat menjadi 10,22%. Artinya, fasilitas kredit yang telah disetujui perbankan sebenarnya tersedia, namun realisasi penarikan dana masih tertahan.
Kondisi tersebut mencerminkan sikap wait and see dari dunia usaha maupun nasabah individu dalam mengambil keputusan ekspansi maupun konsumsi.
“Jadi, tantangannya bukan pada supply dana, tetapi pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan. Yang dibutuhkan bukan sekadar likuiditas tambahan, melainkan penguatan keyakinan pelaku usaha agar ekspansi kembali berjalan,” ujar Hery.
Lebih lanjut, Hery mencermati dua tren yang bergerak berlawanan arah pada segmen UMKM sepanjang 2024 hingga 2025. Pertumbuhan kredit UMKM terus melambat, sementara rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) mulai meningkat sejak Desember 2024 dan bertahan di level yang lebih tinggi.
Baca Juga: Ambil 49% Porsi Nasional, BRI Dominasi Penyaluran Kredit Program Perumahan Nasional
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan arus kas (cash flow) pelaku UMKM belum sepenuhnya pulih. Kombinasi antara pertumbuhan kredit yang melemah dan peningkatan risiko kredit menuntut perbankan menerapkan strategi yang lebih selektif dan berbasis mitigasi risiko.
“Ke depan, ekspansi UMKM tetap penting, tetapi harus berbasis ekosistem cash flow yang memiliki visibility lebih baik serta early warning system yang lebih kuat,” tegasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri